Kamis, 10 Januari 2013

Batu-batuan dan Tumbuh-tumbuhan Bertasbih Memuji Allah Swt

 
Ilmu manusia terhadap makhluk-makhlulk yang menghuni alam semseta sangat terbatas dan minim. Kita tidak mengetahui cara komunikasi dan interaksi semut-semut, cacing-cacing dan kebanyakan makhluk lainnya antara satu dengan yang lain. Dan bahkan kita tidak mampu mendengarkan suara-suara mereka!
Karena panca indera pendengaran kita hanya mampu menerima suara-suara yang frekuensinya terbatas. Kita tidak memiliki kemampuan mendengarkan suara-suara dengan frekeunsi kurang atau lebih dari itu. Sementara merupakan suatu hal yang pasti mereka berhubungan dan berinteraksi satu sama lain.
Adapun bagaimana proses tasbih makhluk-makhluk memuji Allah Swt  merupakan hal-hal yang belum dapat disingkap oleh sains karena itu kita tidak dapat mengilustrasikan bagaimana proses tasbih tersebut. Namun telah dijelaskan pada banyak ayat dan riwayat bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah Swt.[1]
Tasbih artinya menyucikan dan mengkuduskan Allah Swt dari segala kekurangan, cela,  ketidakmampuan dan pendeknya segala sesuatu yang hanya dalam kapasitas makhluk-makhluk. Imam Shadiq As tatkala ditanya tentang subhanaLlah, beliau bersabda, “Artinya mengungkapkan kesucian Allah Swt dari segala macam cela dan keburukan.”[2]
Terdapat dua pandangan ahli tafsir sehubungan dengan bagaimana proses tasbih makhluk-makhluk (batu-batuan dan tumbuh-tumbuhan):
  1. Tasbih dengan bahasa tubuh atau non-verbal (hâl)
  2. Tasbih dengan bahasa verbal (qâl)
  1. Tasbih dengan bahasa tubuh atau non-verbal (hâl)
Sebagian ahli tafsir memandang bahwa tasbih makhluk-makhluk dinyatakan dengan bahasa tubuh dan non-verbal. Mereka memaknai tasbih tersebut sebagai petunjuk eksistensial seluruh makhluk atas Zat Suci Allah Swt dan sifat-sifat sempurnanya. Pada pandangan ini sebagain ahli tafsir berpandangan bahwa tasbih makhluk-mahkluk adalah tasbih takwini dan makhluk-makhluk tersebut mendeskripsikan Sang Pencipta dengan bahasa non-verbal dan lamat-lamat berkata, “Apabila engkau menyaksikan kekurangan pada diriku maka hal itu merupakan keniscayaan esensial diriku dan Mahasuci Allah Swt dari kekurangan ini.”
Abu Nasir Farabi, Thabarsi, Fakhrurazi dan Alusi memandang bahwa tasbih makhluk-makhluk dinyatakan dengan bahasa non-verbal (hâl). Dalam tafsir Nemune juga dikemukakan pandangan ini. Farabi, dalam tafsir tasbih dan salat makhluk-makhluk, berkata, “Langit dengan putarannya membawa dirinya salat ke haribaan Ilahi. Bumi dengan goyangannya menunaikan salat dan turunnya hujan adalah salat bagi hujan.”[3]
Sesuai dengan pandangan ini, konsepsi dan afirmasi tasbih makhluk-makhluk dan atom-atom di alam semesta sangat dapat dipahami karena setiap atom dari atom-atom di alam semesta yang melakukan aktifitas maka aktivitas tersebut adalah tasbih.
  1. Tasbih dengan bahasa verbal (qâl)
Yang dimaksud dengan bagian tasbih dan pujian ini adalah bahwa seluruh makhluk adalah berakal dan memiliki intelejensi. Di samping mereka bertasbih dan memuji Allah Swt dengan bahasa non-verbal, mereka juga memuji Allah Swt dengan bahasa verbal. Namun kita ketahui secara global bahwa tasbih semacam ini bersandar pada konsep bahwa seluruh hewan dan tumbuh-tumbuhan sesuai dengan kondisi dan posisi mereka memiliki pemahaman dan jiwa-jiwa rasional. Setiap makhluk bertasbih kepada Tuhannya dengan jiwa rasionalnnya dan lamat-lamat tasbih seluruh makhluk mengalun syahdu pada alam semesta. Meski mendengarkan tasbih mereka tidak mungkin bagi semua orang dan hanya orang-orang tertentu yang tidak terhijabi dunia yang dapat mendengarkan alunan tasbih seluruh makhluk di alam semesta.
Mengutip Rumi:
Sekiranya matamu terbuka dari mata gaib
Maka atom-atom semesta memiliki rahasia bersamamu
Omongan air, tanah dan bunga
Hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang mengurus hatinya
Di antara ulama kontemporer yang memiliki condong terhadap pandangan ini kita dapat menunjuk Allamah Thabathabai Ra dan Syahid Muthahhari Ra. Allamah Thabathabai Ra berkata, “Tasbih seluruh makhluk adalah tasbih hakiki dan verbal. Sesuatu yang verbal tidak mesti harus berbentuk untaian lafaz yang didengarkan.”[4]
Karena itu tasbih tumbuh-tumbuhan dan batu-batuan juga melakukan tasbih hakiki dan verbal. Adapun yang mengatakan tasbih para malaikat dan orang-orang beriman adalah tasbih verbal sementara tasbih makhluk-makhluk lainnya adalah tasbih non-verbal tidak dapat dibenarkan. Manusia harus menjadi ahli hati (yang mengurus hati dan penyucian jiwa), makna dan hakikat sehingga mampu memahami tasbih tersebut. Tatkala manusia memahami makhluk-makhluk tersebut kita saksikan bahwa bagaimana seluruh makhluk mengetahui, sadar, memuji dan bertasbih kepada Allah Swt.
Sehubungan dengan Nabi Daud, al-Quran menyatakan, “Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya (Daud) di waktu petang dan pagi. Dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul (sehingga bertasbih bersamanya). Masing-masing burung itu amat taat kepada-Nya.” (Qs. Shad [38]:17-19)
Pada ayat ini terdapat dua poin yang menyokong pendapat bahwa tasbih makhluk-makluk itu adalah tasbih dengan bahasa verbal: Pertama turut sertanya gunung-gunung dan burung-burung bersama Nabi Daud bertasbih memuji Allah Swt, “bertasbih bersamanya” apabila yang dimaksud tasbih adalah tasbih makhluk-makhluk adalah tasbih dengan bahasa non-verbal  maka kebersamannya dengan Daud tidak memiliki makna atau tidak terdapat poin yang menyebutkan hal itu (tasbih non-verbal).
Konteks ayat bersifat tunggal. Karena itu tidak ada maknanya kita memaknai tasbih terkait dengan gunung-gunung dan burung-burung sebagai bahasa non-verbal dan terkait dengan Nabi Daud kita maknai sebagai bahasa verbal, karena tasbih dengan bahasa non-verbal juga dapat disampaikan meski tanpa Nabi Daud As.
Poin lainnya bahwa ayat menyatakan pada pagi hari dan petang gunung-gunung dan burung-burung bertasbih bersama Daud. Boleh jadi kita berkata bahwa pagi hari dan petang merupakan kata kiasan dari malam dan siang dan sebagai hasilnya adalah tasbih yang berterusan. Namun dengan memperhatikan poin sebelumnya (bersama Nabi Daud As) harus dikatakan bahwa gunung-gunung dan burung-burung bersama Nabi Daud satu suara melakukan tasbih. Artinya kapansaja Nabi Daud mulai bertasbih, maka burung-burung dan gunung-gunung akan bersamanya satu nada bertasbih. Dengan demikian, yang dimaksud dengan ‘asya dan abkar adalah makna hakiki fajar dan senja, dan dalam hal ini tasbih yang menunjukkan adanya gunung-gunung dan burung-burung berarti adanya Tuhan dan tafsir tidak dengan bahasa non-verbal dan sebagaimana yang telah kami katakan, tasbih seperti ini senantiasa dan ada setiap masa. Tidak ada dalilnya kita mengkhususkan tasbih tersebut hanya pada pagi dan petang atau ketika adanya Nabi Daud As. Daud yang mendengarkan gunung-gunung dan burung-burung bertasbih dengannya, beliau memiliki telinga yang lain yang menembus batin dan malakut segala sesuatu dan mendengarkan suara batin mereka. “Apabila telinga batin kita terbuka maka kita juga akan mendengarkan.”[5]
Sehubungan dengan kisah bebatuan yang berbicara di tangan Rasulullah Saw,[6] Syahid Muthahhari berkata, “Di sini bukan mukjizat Rasulullah Saw sehingga bebatuan berbicara melainkan mukjizatnya terletak pada beliau membukakan telinga orang-orang untuk mendengarkan suara bebatuan tersebut. Bebatuan itu senantiasa bertasbih dan mukjizat Rasulullah Saw adalah memperdengarkan suara tasbih tersebut bukan membuat bebatuan bersuara.”[7]
Karena itu dapat dikatakan bahwa tasbih lisan dan ucapan makhluk-makhluk adalah hal yang mungkin saja terjadi yang dapat dipahami oleh hati-hati suci dan manusia-manusia yang telah menempa dan menggembleng dirinya. [iQuest]

[1]. “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al-Isra [17]:44)  
[2]. Al-Kâfi, jil. 1, hal. 118, Hadis 10.
[3]. Tasbih Makhluk-makluk.  
[4]. Terjemahan Persia al-Mizân, jil. 13, hal 152.
[5]. Silahkan lihat al-Mizân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 13, hal. 120-121.
[6]. Bihâr al-Anwâr, jil. 57, hal. 169.  
[7]. Murtadha Muthahhari, Âsyanâi bâ Qur’ân, jil. 4, hal. 174.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar