Selasa, 01 Oktober 2013

Muslim Sunni Diperbolehkan Mengikuti Fatwa Mufti Syiah

Mufti Mesir:
 Muslim Sunni Diperbolehkan Mengikuti Fatwa Mufti Syiah
“Saya berpendapat bahwa seorang muslim Sunni diperbolehkan untuk mengikuti fatwa ulama Syiah. Dan ini pulalah yang pernah diutarakan oleh Syaikh Mahmud Saltut, pemimpin besar kaum muslimin di Mesir dan mantan Rektor Universitas Al Azhar. Karena bagi kami, Sunni dan Syiah itu tidak ada bedanya.” 

Muslim Sunni Diperbolehkan Mengikuti Fatwa Mufti Syiah
Syaikh Ali Jum’ah ulama Mufti Mesir dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Al Arabiyah selasa, 24/9 menyatakan kesepakatannya dengan fatwa persatuan dari Rahbar khususnya mengenai pelarangan umat Syiah untuk melakukan pelecehan dan penghinaan terhadap tokoh-tokoh yang diagungkan oleh Ahlus Sunnah.

Mufti Mesir tersebut selanjutnya berkata, “Kewajiban setiap ulama Ahlus Sunnah, adalah mengupayakan terwujudnya persatuan dan kedekatan dengan umat Syiah di seluruh dunia.”

“Dibidang fikih Syiah lebih maju dibanding Sunni, dan mengenai ini maka diperbolehkan Sunni untuk mengikuti fatwa dari ulama marja Syiah.” Lanjutnya lagi.

Syaikh Ali Jum’ah kemudian bersaksi dengan menyatakan sampai saat ini tidak ada satupun kitab asli dan penting Syiah yang beliau temui berisi kecaman dan penghinaan terhadap sahabat dan istri-istri Nabi. Beliau berkata, “Fatwa dari Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran tersebut merupakan salah bentuk perkhidmatan beliau terhadap Islam dan kaum muslimin. Dan fatwa tersebut sangat mempercepat dan berkontribusi besar dalam terwujudnya persatuan kaum muslimin.”

Mufti Mesir tersebut setelah bertemu langsung dengan beberapa ulama besar Syiah dalam beberapa pertemuan para ulama Islam se dunia mengatakan, “Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, para ulama Syiah mengatakan kepada saya, penghinaan terhadap khalifah dan istri Nabi bukanlah berasal dari kalangan Syiah, melainkan perbuatan dan makar dari pihak musuh yang hendak memecah belah umat Islam antara Sunni dan Syiah.”

Pada bagian lain pembicaraannya, Syaikh Ali Jum’ah mengatakan, “Saya berpendapat bahwa seorang muslim Sunni diperbolehkan untuk mengikuti fatwa ulama Syiah. Dan ini pulalah yang pernah diutarakan oleh Syaikh Mahmud Saltut, pemimpin besar kaum muslimin di Mesir dan mantan Rektor Universitas Al Azhar. Karena bagi kami, Sunni dan Syiah itu tidak ada bedanya.”

Senin, 30 September 2013

Ada Manipulasi Sejarah Berkenaan dengan Usia Siti Khadijah

 Yang kita dapati dalam kitab Shahih Bukhari misalnya, Aisyah meriwayatkan lebih dari 2000 hadits dari Nabi. Namun bandingkan dengan siti Khadijah yang hidup bersama Nabi, satu-satunya istri Nabi selama 25 tahun dan ada 10 tahun disaat Muhammad telah diangkat menjadi Nabi, dalam shahih Bukhari hadits yang beliau riwayatkan tidak lebih dari 25 buah hadits. Menurut kamu ada apa ini? Mengapa periwayatan dari siti Khadijah disensor sedemikian rupa?. 

Menurut Kantor Berita ABNA, malam kesepuluh Ramadhan ditahun kesepuluh bi'tsat adalah malam penuh duka cita bagi Rasulullah Saw. Malam telah berpulangnya istri terkasih beliau yang telah menemani kehidupannya selama 25 tahun, Hadhrat Khadijah Kubra (sa). Perempuan yang dalam catatan sejarah disebut sebagai perempuan pertama yang memeluk agama yang dibawa Nabi dan mengorbankan banyak hartanya dalam upaya penyebaran Islam. Ada Manipulasi Sejarah Berkenaan dengan Usia Siti Khadijah
Hari wafat Siti Khadijah hanya berselang beberapa hari dengan wafatnya Abu Thalib paman dan pelindung Nabi Saw. Karena kepergian dua orang yang begitu dikasihinya, Nabi menyebut tahun kesepuluh bi'tsat sebagai tahun kesedihan.
Namun berlepas dari musibah yang menimpa Rasulullah dengan kepergian istri terkasihnya dan paman yang sangat dicintainya, musibah turut pula menimpa kaum muslimin dengan adanya penyelewengan sejarah berkenaan dengan kehidupan dua kekasih Rasulullah tersebut dan perannya dalam penyebaran Islam. Abu Thalib oleh rekayasa sejarah disebut mati dalam keadaan kafir, sementara siti Khadijah dikecilkan keberadaannya.
Berikut adalah wawancara wartawan ABNA dengan Hujjatul Islam wa Muslimin Ustad Najmuddin Tabasi, pakar sejarah Islam yang bermukim di Qom Iran yang akan membeberkan fakta-fakta sejarah yang sengaja disembunyikan berkenaan dengan keutamaan Hadhrat Khadijah yang hari kesepuluh Ramadhan ini kita peringati syahadahnya.
ABNA: Malam Ini, malam kesepuluh Ramadhan dan malam yang dikenal dalam tarikh Islam sebagai malam wafatnya Ummul Mukminin Hadhrat Khadijah Kubra (sa). Bolehkan anda menyampaikan, apa yang dirasakan dan dilakukan Nabi dan putrinya Az Zahra pada malam itu?
-Bismilllahirrahmanirrahim. Almarhum Syaikh Haji Abbas Qomi meriwayatkan dalam kitabnya Hadhrat Khadijah dimalam ia hendak berpulang, ia berkata kepada Rasulullah Saw suaminya tercinta, "Ya Rasulullah, saya hendak menyampaikan beberapa hal kepadamu. Pertama, maafkan saya karena keterbatasan pengetahuanku tentangmu sehingga saya sering memperlakukanmu tidak selayaknya, pengabdianku padamu banyak cela dan cacatnya." Nabi menanggapi, "Tidaklah demikian istriku. Kamu telah melakukan semua yang semestinya kamu lakukan."
Siti Khadijah melanjutkan, "Yang kedua, dengan kepergianku putri kita akan mejadi yatim. Saya amanahkan putri 3 tahun ini untuk anda jaga baik-baik."
"Yang ketiga, saya malu menyampaikan langsung kepadamu. Dengan penuh rasa hormat, saya meminta kepadamu ya Rasulullah, bawa putriku kesini dan biarkan kami berdua, aku hendak menyampaikan satu hal padanya yang kemudian disampaikannya kepadamu." Nabi memenuhi permintaan istrinya tersebut. Dibawanya Fatimah disisi istrinya itu. Lalu meninggalkan mereka berdua. Fatimah mendekatkan telinganya ke bibir bunda tercintanya. Dengan kekuatan yang tersisa siti Khadijah berkata, "Anakku, sampaikan kepada ayahmu. Saya telah menyerahkan semua yang saya miliki untuk perjuangan di jalan Islam, sampai saya tidak lagi memiliki uang yang tersisa untuk membeli kain kafan. Saya takut dengan azab kubur, saya ingin pakaian yang ayahmu kenakan digunakan sebagai pengganti kain kafan untuk membungkus jasadku sehingga saya bisa aman dari siksa kubur."
Siti Fatimah menyampaikan permintan ibunya tersebut kepada Nabi. Dengan penuh rasa sedih, Nabi Saw menyanggupinya. Namun tiba-tiba Malaikat Jibril as datang dan berkata, "Allah Azza wa Jalla berfirman, karena Khadijah telah mengorbankan dan mempersembahkan semua harta yang dimilikinya di jalan-Ku, maka sudah selayaknya Kami berikan padanya kain kafan." Demikianlah, sesaat setelah wafatnya, jasad mulia Siti Khadijah dibungkus dengan kain kafan yang berasal dari surga. Nabi Saw tetap memenuhi permintaan istrinya. Beliau mendirikan shalat malam dan menghadiahkan pahala-pahala ibadahnya untuk istrinya. Dengan demikian, siti Khadijah dibungkus dengan dua kain, kain dari surga dan kain dari pakaian Rasulullah, kemudian dimakamkan dengan penuh pemuliaan.
Menurut Kantor Berita ABNA, malam kesepuluh Ramadhan ditahun kesepuluh bi'tsat adalah malam penuh duka cita bagi Rasulullah Saw. Malam telah berpulangnya istri terkasih beliau yang telah menemani kehidupannya selama 25 tahun, Hadhrat Khadijah Kubra (sa). Perempuan yang dalam catatan sejarah disebut sebagai perempuan pertama yang memeluk agama yang dibawa Nabi dan mengorbankan banyak hartanya dalam upaya penyebaran Islam. Ada Manipulasi Sejarah Berkenaan dengan Usia Siti Khadijah
ABNA: Dengan adanya persembahan Ilahi itu, apa hal itu menunjukkan ketinggian derajat Siti Khadijah?
-Iya. Hadhrat Khadijah adalah seseorang yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Jika seseorang meninggal dunia, maka Nabi mengenang kematiannya di hari pertamanya, di hari ketujuhnya, dihari keempat puluhnya, namun ketika siti Khadijah meninggal dunia, Nabi menyatakan kesedihannya sepanjang tahun sampai menyebut tahun wafat siti Khadijah sebagai tahun kesedihan.
Siti Khadijah adalah perempuan pertama yang menyatakan keimanan terhadap aqidah yang dibawa Nabi. Beliaupun telah mengorbankan semua hartanya di jalan Islam sampai kemudian tidak ada yang lagi tersisa hatta untuk membeli kain kafan sekalipun. Dan kami katakan, perempuan teragung setelah siti Fatimah as adalah siti Khadijah sa.
ABNA: Mungkin karena besarnya keutamaan yang dimiliki siti Khadijah itulah yang kemudian dijadikan kebanggaan oleh Maksumin as dalam berhadapan dengan para musuh-musuhnya, bahwa mereka adalah putera-putera Khadijah?
-Iya. Mereka setelah memperkenalkan diri sebagai putera Fatimah mereka as juga menyebut diri sebagai putera-putera Khadijah sa. Para Aimmah maksum diri mereka sendiri sebenarnya adalah cahaya yang memiliki maqam yang sangat agung dan tinggi dan tidak ada orang biasa yang menyamai maqam mereka namun untuk mereka, mereka tetap menjadikan siti Khadijah sebagai kebanggaan dan sebuah keutamaan menjadi keturunannya.
ABNA: Banyak syubhat yang berkenaan dengan berapa usia Siti Khadijah saat menikah dengan Nabi. Dari penelitian dan pengkajian anda, diusia berapa siti Khadijah menikah dengan Nabi?
-Mengenai usia beliau tidaklah penting. Yang penting adalah peran beliau dalam penyebaran Islam. Namun karena anda mempertanyakan, maka saya katakan, selama ini ada manipulas sejarah yang terus dipelihara dan disebarkan. Siti Khadijah diperkenalkan sebagai perempuan tua yang menikah dengan Muhammad muda. Meninggalnya pun disebutkan karena termakan usia. Namun bukan itu yang sebenarnya.
ABNA: Yang benar seperti apa?
-Yang benar menurut saya dan itu yang terkuat adalah usia beliau ketika menikah dengan Nabi dibawah 30 tahun, bukan 40 tahun. Azd Dzahabi, salah seorang ahli hadits Ahlus Sunnah menyatakan, usia siti Khadijah ketika menikah dengan Nabi berusia 28 tahun. Tidak berbeda dengan hasil tahkik yang saya temukan, diriwayatkan dari Ibnu Abbas usia beliau dibawah 30 tahun. Sebagian lagi mengatakan usianya masih 25 tahun. Namun rekayasa sejarah usia beliau disebut 40 tahun, dikenal sebagai janda tua yang tidak menarik lagi.
ABNA: Apa keuntungannya jika disebut Siti Khadijah usianya 40 tahun kala itu?
-Inilah yang disayangkan, sepanjang sejarah musuh-musuh Islam dengan gigih menyebarkan kedustaan tersebut. Sampai pada tingkat, hadits-hadits keutamaan Ahlul Bait disingkirkan dan tidak diperkenalkan secara massif sebagaimana hadits-hadits keutamaan sahabat dikaji dan disampaikan. Kaum muslimin diperhadapkan oleh perbandingan siti Khadijah yang tua dengan Aisyah yang masih muda dan cerdas. Nabi dikatakan menikah dengan Khadijah janda tua, dan bocah perempuan yang masih berusia dibawah 9 tahun –pendapat masyhur 7 tahun- yang saat dinikahi Nabi masih gemar bermain dengan bonekanya. Bukankah kesenjangan itu akan menjadi lelucon bagi musuh-musuh Islam?.
ABNA: Masyarakat Barat sampai saat ini menyebut pernikahan Nabi dengan Aisyah diusianya yang masih sangat muda sebagai titik kelemahan Islam. Benar begitu?
Menurut Kantor Berita ABNA, malam kesepuluh Ramadhan ditahun kesepuluh bi'tsat adalah malam penuh duka cita bagi Rasulullah Saw. Malam telah berpulangnya istri terkasih beliau yang telah menemani kehidupannya selama 25 tahun, Hadhrat Khadijah Kubra (sa). Perempuan yang dalam catatan sejarah disebut sebagai perempuan pertama yang memeluk agama yang dibawa Nabi dan mengorbankan banyak hartanya dalam upaya penyebaran Islam. Ada Manipulasi Sejarah Berkenaan dengan Usia Siti Khadijah
-Iya. Jika kita memperhatikan dan menganalisa catatan sejarah secara seksama usia Aisyah tidak semuda itu. Kembali Adz Dzahabi menyatakan, Asma saudara perempuan Aisyah pada malam hijrah berusia 27 tahun. Selisih umur Asma dan adiknya Aisyah 10 tahun. Jadi usia Aisyah pada malam hijrah 17 tahun. Dan pada saat hijrah itu, Nabi belum menikahi Aisyah, melainkan beberapa tahun setelah hijrah. Yaitu usia pernikahannya dengan Nabi sekurang-kurangnya 19 tahun. Namun sebagian pihak secara gigih mengatakan usianya jauh lebih muda dari itu sementara usia siti Khadijah ditambahkan sehingga tampak terhitung perempuan tua.
ABNA: Mengapa sampai rekayasa itu terjadi?
-Banyak alasan yang bisa dikemukakan. Diantaranya adalah rekayasa Bani Umayyah. Kita tahu Bani Umayyah diawal penyebaran Islam berada dalam posisi sebagai musuh. Mereka berperang melawan Nabi dan kaum muslimin sampai akhirnya takluk dan menyerah saat fathul Makah. Pasca Fathul Makahpun tidak sedikit dari mereka yang termasuk golongan munafikin yang hendak merusak Islam dari dalam. Karenanya sesuatu yang bisa diduga ada upaya dari mereka yang tidak henti-hentinya untuk menciderai Islam. Ada dua jenis Islam yang hidup saat Bani Umayah yang berkuasa atas kaum muslimin. Islam Muhammadi sebagaimana Islam yang diusung siti Khadijah dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang menjadi penyokong dan pendukung setia dakwah Nabi dan Islam Umawi yang disponsori Muawiyah dan Marwan.  Dimasa kekuasaan Bani Umayyah urusan kaum muslimin ditangan mereka. Mereka punya kuasa penuh atas versi sejarah Islam yang harus beredar ditengah masyarakat. Mereka banyak melakukan manipulasi terhadap sejarah generasi awal, bukan hanya berkenaan dengan siti Khadijah melainkan juga istri-istri Nabi yang lain termasuk Ummu Salamah. Menurut kami, Ummu Salamah berada pada posisi kedua sebagai istri terbaik Nabi setelah Siti Khadijah. Namun diceritakan semua kecintaan dan perhatian Nabi seakan tertumpu dan terfokus hanya pada Aisyah, semua keutamaan ada pada Aisyah, keilmuan, kecerdasan, kecantikan, usia yang muda dan seterusnya. Bahkan secara ekstrim mereka memposisikan Nabi tidak berlaku adil terhadap istri-istrinya yang lain, karena lebih mengutamakan Aisyah. Apakah –nauzubillah- seseorang yang tidak bisa menegakkan keadilan dalam rumah tangganya mampu menegakkan keadilan dalam masyarakat?.
Oleh karena itu, kelompok Islam Umawi dan para pendukung mereka, mengecilkan peran dan posisi siti Khadijah, Imam Ali dan Sayyidah Fatimah dengan menyebarkan riwayat-riwayat palsu yang dengan itu akan mengokohkan kepentingan mereka.
ABNA: Argumentasi lain yang bisa diberikan?
-Satu hal lain yang patut ditekankan adanya pernyataan kerinduan Nabi kepada Khadijah yang disampaikan berkali-kali dan terbuka. Diantara sabdanya, "Khadijah mempercayaiku disaat yang lain menolak dakwahku, disaat Khadijah mengimani apa yang kubawa, kamu dan ayahmu justru memerangiku." Menurut Ibnu Abi al Hadid dan ulama besar Ahlus Sunnah lainnya menyatakan bahwa perkataan Nabi tersebutlah yang menimbulkan kedengkian dihati Muawiyah.
Keistimewaan lainnya siti Khadijah adalah beliau satu-satunya istri yang memberikan Nabi keturunan yang mampu hidup lebih lama sampai mempunyai keturunan, yaitu Siti Fatimah az Zahrah. Asbabun Nuzul turunnya surah al Kautsar berkenaan dengan lahirnya Sayyidah Fatimah tersebut. Siti Khadijah juga dikaruniai cucu, imam Hasan dan Husain yang keduanya adalah penghulu pemuda di surga. Keutamaan itulah yang tidak dimiliki yang lain.
ABNA: Apakah dengan lebih banyaknya riwayat dari Aisyah dalam literatur Ahlus Sunnah juga menunjukkan adanya tujuan tersebut?
Menurut Kantor Berita ABNA, malam kesepuluh Ramadhan ditahun kesepuluh bi'tsat adalah malam penuh duka cita bagi Rasulullah Saw. Malam telah berpulangnya istri terkasih beliau yang telah menemani kehidupannya selama 25 tahun, Hadhrat Khadijah Kubra (sa). Perempuan yang dalam catatan sejarah disebut sebagai perempuan pertama yang memeluk agama yang dibawa Nabi dan mengorbankan banyak hartanya dalam upaya penyebaran Islam. Ada Manipulasi Sejarah Berkenaan dengan Usia Siti Khadijah
-Bayangkan, Siti Khadijah bersama Nabi selama kurang lebih 25 tahun. 15 tahun sebelum bi'tsat dan 10 tahun pasca bi'tsat. Sementara Aisyah hidup bersama Nabi ada berapa tahun?. Nabi menikahi Aisyah tahun kedua Hijriyah dan wafat awal tahun 11 H, jadi hidup bersama Nabi sekitar 8 tahun. Dan juga Nabi saat itu tidak setiap hari bersama Aisyah, sebab juga memiliki istri-istri yang lain, yang bahkan bila dikumpulkan, bisa jadi untuk satu tahun penuhpun Nabi tidak selalu bersama Aisyah. Jika satu tahun itu, dalam satu hari Aisyah meriwayatkan satu hadits dari Nabi, maka akan ada 365 hadits dari periwayatan Aisyah, jika dua hadits perharinya ada 730 hadits dan jika 3 hadits perhari ada 1095 hadits. Namun yang kita dapati dalam kitab Shahih Bukhari misalnya, Aisyah meriwayatkan lebih dari 2000 hadits dari Nabi. Namun bandingkan dengan siti Khadijah yang hidup bersama Nabi, satu-satunya istri Nabi selama 25 tahun dan ada 10 tahun disaat Muhammad telah diangkat menjadi Nabi, dalam shahih Bukhari hadits yang beliau riwayatkan tidak lebih dari 25 buah hadits. Menurut kamu ada apa ini? Mengapa periwayatan dari siti Khadijah disensor sedemikian rupa?. Tentu kita tidak mengatakan yang melakukan semua rekayasa ini adalah siti Aisyah, melainkan orang-orang setelah beliau. Yaitu dimasa kekuasaan Bani Umayyah.
ABNA: Dalam kitab-kitab hadits Syiah sendiri bagaimana? Apa periwayatan dari Siti Khadijah ada?
-Dalam kitab-kitab Syiahpun demikian, dalilnya, jika ulama-ulama hadits kita bersikeras untuk tetap meriwayatkan hadits melalui periwayatan Ahlul Bait khususnya siti Khadijah dan Sayyidah Fatimah maka kitab-kitab mereka akan dibakarnya, ulama dibunuhi dan sebagainya. Mengapa itu bisa terjadi? Pemerintahan dalam penguasaan mereka, dan itu sangat memungkinkan terjadi.
ABNA: Bisa jadi dalihnya seperti ini, siti Khadijah ketika bersama Nabi hidupnya di Mekah disaat kaum muslimin berada dibawah tekanan dan saat itu kondisi umat Islam masih lemah, sementara tidak demikian dengan masa Aisyah, bersama Nabi di Madinah dan dalam kondisi aman dan Islam memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk tersebar, sehingga masyarakat Islam saat itu bisa dengan mudah mendapatkan periwayatan hadits melalui Aisyah. Bagaimana menurut anda?
Menurut Kantor Berita ABNA, malam kesepuluh Ramadhan ditahun kesepuluh bi'tsat adalah malam penuh duka cita bagi Rasulullah Saw. Malam telah berpulangnya istri terkasih beliau yang telah menemani kehidupannya selama 25 tahun, Hadhrat Khadijah Kubra (sa). Perempuan yang dalam catatan sejarah disebut sebagai perempuan pertama yang memeluk agama yang dibawa Nabi dan mengorbankan banyak hartanya dalam upaya penyebaran Islam. Ada Manipulasi Sejarah Berkenaan dengan Usia Siti Khadijah
-Jika mereka berargumentasi seperti itu, maka kami tanyakan kepada saudara kami Ahlus Sunnah, lantas dimana periwayatan dari Sayyidah Fatimah as?. Beberapa pendapat sejarahwan Ahlus Sunnah menyebutkan sayyidah Fatimah wafat diusia 28 tahun, 6 bulan kemudan setelah wafatnya Nabi. Jadi beliau tinggal bersama Nabi 27 tahun 6 bulan. Sebut saja jika dalam 1 tahun Sayyidah Fatimah hanya meriwayatkan 1 hadits dari Nabi, maka tentunya setidaknya ada 28 hadits dalam kitab mereka. Namun bisakah anda menemukan ke 28 hadits itu?. Atau sebut saja 1 hadits dalam 2 tahun, maka ada setidaknya 14 hadits. Dalam kitab paling mu'tabar mereka, tunjukkan saya ke 14 hadits itu.
Anda tidak akan bisa menemukan 14 hadits ataupun separuhnya dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan oleh Sayyidah Fatimah az Zahrah. Dalam shahih Bukhari hanya 1 hadits dari Sayyidah Fatimah. Apakah mungkin putri Nabi sepanjang usianya hanya meriwayatkan satu hadits dari ayahnya?. Dalam kitab mu'tabar Ahlus Sunnah, hanya dalam Musnad Ahmad yang meriwayatkan 8 hadits, yang lima riwayat diantaranya berkenaan dengan Fatimah bukan dari Fatimah. Berarti dalam Musnad Ahmad pun riwayat dari Fatimah hanya ada 3 hadits.
Bayangkan dari istri paling utama Nabi dan dari putrinya, hadits yang dinukilkan dari keduanya bisa dihitung jari, sementara dari yang lain sampai ribuan hadits. Inilah yang membuat tugas kita menjadi sangat berat.
ABNA: Atas penyampaian dan kesempatan yang anda berikan, kami ucapkan terimakasih.

Selasa, 10 September 2013

Siapa Muawiyah bin Abu Sufyan Sebenarnya? ...

Di antara BID’AH TERBESAR Muawiyah dan sekaligus menjadi salah satu faktor penyebab hancurnya kejayaan Islam adalah penunjukkannya atas Yazid, putranya yang bergelimang dosa dan maksiat sebagai penggantinya untuk menduduki kekhalifahan (lebih tepatnya kerajaan, sesuai dengan pengakuan Muawiyah sendiri).
Jika Abu Bakar, Umar dan Ali as menyerahkan kekhalifahan lewat ‘musyawarah’, atau paling tidak mereka tidak memaksa umat Islam untuk mengangkat putra mereka sendiri untuk menjadi khalifah, maka Muawiyah dengan cara tangan besi memaksa umat Islam untuk tunduk atas pilihannya dengan mengangkat anaknya, Yazid (semoga laknat Allah ditimpakan kepada keduanya) menjadi penggantinya.
Hampir tak seorang alim pun dari Ahlus Sunnah yang meragukan kebejatan putra Muawiyah yang terkenal suka bermabuk-mabukan khamar, berzina dengan ibu kandungnya, anak perempuannya dan adik perempuannya sendiri dan masih banyak lagi kejahatan nyata lainnya yang dilakukannya.
Sayyid Quthub, penulis kitab Tafsir Fi Zilal al-Quran (Dalam Naungan Al-Quran) yang terkenal itu, mengatakan : “…Adapun ketika keluarga Umayyah bangkit dan kekhalifahan Islam menjadi milik pribadi dalam keluarga Bani Umayyah, maka hal itu bukanlah ilham dari Islam, tapi ilham kejahiliyahan yang mematikan ruh Islam.” 1]
Pada halaman lainnya, Sayyid Quthb melaporkan bahwa pelimpahan kekuasaan yang dilakukan Muawiyah itu berlangsung dengan ancaman pedang dan kematian. Berikut ini kelengkapannya :
“…Untuk mengetahui atas dasar apa kekhalifahan Bani Umayyah itu ditegakkan, cukuplah di sini kita sungguhkan kisah bagaimana baiat diberikan kepada Yazid bin Muawiyah. Muawiyah memanggil utusan-utusan yang akan membicarakan dan membuat kesepakatan tentang pemberian baiat kepada Yazid.
Kemudian muncullah Yazid ibn Muaqqaffa’, yang maju ke depan, lalu berkata : “Amirul Mukminin yang sekarang adalah ini.” Katanya sambil menunjuk ke Muawiyah. Kemudian melanjutkan : “Apabila ia wafat, maka inilah penggantinya.” Sambil menunjuk kepada Yazid. Kemudian, katanya :“Dan barangsiapa yang tidak setuju, ini bagiannya!” lalu dia menghunuskan pedangnya.
Maka berkatalah Muawiyah : “Duduklah, memang kamu rajanya pembicara.” Sesudah pengambilan baiat terhadap Yazid di Syam (Damaskus), Muawiyah lalu menugaskan Said Ibn al-Ash untuk MENIPU dan meyakinkan penduduk Hijaz akan sahnya baiat terhadap Yazid.
Tapi orang ini menyatakan tak sanggup mengerjakan tugas tersebut. Maka berangkatlah Muawiyah ke Makkah dengan membawa tentara dan harta benda. Setiba di sana, dipanggilnya pemimpin-pemimpin kaum Muslimin Makkah, lalu ia berkata kepada mereka : “Anda semua tahu riwayat kehidupan saya di tengah-tengah masyarakat Anda, dan silaturahim saya dengan Anda. Yazid adalah saudara Anda dan anak paman Anda. Saya menghendaki agar semua mengakui Yazid sebagai Khalifah. Anda sekalian tinggal diam, siap diperintah, menerima uang dan harta kekayaan yang saya bawa ini, kemudian bagi-bagilah!!!.”
Maka menjawablah Abdullah bin Zubair, dengan mengajukan pilihan antara apa yang dilakukan Rasuilullah, yang tak menunjuk seorang pun sebagai pengganti beliau, atau seperti yang dilakukan Abu Bakar, yang menunjuk seorang yang bukan ayahnya, atau seperti yang dilakukan Umar yang menjadikan masalah kekhalifahan sebagai bahan musyawarah atas 6 orang yang tak seoarng pun di anatarnya adalah anaknya atau saudaranya.
Maka murkalah Muawiyah. Katanya : “Adakah lagi yang akan kau katakan selain itu?”
Jawab Ibn Zubair : “Tidak.”
Maka Muawiyah berpaling kepada yang lain-lain dan bertanya : “Anda semua bagaimana?”
Mereka menjawab : “Pendapat kami sama denga yang dikemukakan Abdullah bin Zubair.”
Mendengar jawaban itu, Muawiyah lalu mengancam : “Saya maafkan Anda, tapi saya peringatkan: Saya berbicara kepada Anda semua, dan ada yang maju mendustakan saya di depan umum. Saya maafkan dia dengan segenap kelapangan dada. Tapi kalau ada seorang di antara Anda yang MEMBANTAH perkataan saya, maka sebelum ucapannya mendapat balasan, maka terlebih dahulu sebuah PEDANG AKAN MENYAMBAR KEPALANYA! Karena itu, hendaklah setiap orang duduk di tempatnya dan menjaga dirinya sendiri.”
Sesudah itu para pengawal Muawiyah berdiri menjaga pemimpin-pemimpin Makkah tersebut. Tiap 2 orang pengawal menjaga 1 orang, dan kepada pengawalnya, Muawiyah berkata : “Apabila ada yang menyela perkataanku, baik mendustakan atau pun membenarkan, hendaklah kedua orang yang menjaganya itu menebas kepalanya dengan pedang mereka!”
Kemudian Muawiyah berdiri di atas mimbar dan berkata kepada orang banyak : “Orang-orang yang berkumpul di sini adalah kelompok pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka kaum Muslimin. Tak ada satu urusan pun yang tidak dimusyawarahkan dan diputuskan dengan meminta pendapat mereka. Dan mereka telah menerima dan berbaiat kepada Yazid. Karena itu berbaiatlah kalian semua dengan nama Allah!”2]
Maka berbaiatlah orang banyak itu!!!
Sayyid Quthb berkomentar tentang tindakan zalim Muawiyah itu :“Dengan prinsip macam beginilah, prinsip yang sama sekali tidak pernah dikenal Islam, ditegakkan ‘kekhalifahan’ Yazid. Dan siapakah sebenarnya Yazid ini?”
‘Abdullah bin Handhalah mengatakan tentang Yazid bin Muawiyah sebagai berikut : “Demi Allah! Tak sekalipun kami melihat Yazid kecuali kami merasa takut jangan-jangan Allah akan menurunkan hujan batu kepada kami dari langit. Sungguih laki-laki ini (Yazid) TELAH MENGAWINI IBU KANDUNGNYA, ANAK PEREMPUANNYA dan SAUDARA PREEMPUANNYA SENDIRI, MEMINUM KHAMAR dan MENINGGALKAN SHALAT. Demi Allah! Seandainya tidak ada seorang pun yang menyertaiku, pastilah Allah akan menimpakan bala’ kepadaku karenanya!” 3]
Apakah Anda ingin tahu lebih jauh apa lagi dosa-dosa besar yang dilakukan lelaki durjana macam Muawiyah dan Yazid ini?
Apakah Anda justru setuju dengan tindakan-tindakan keji mereka ini?
Tak seorang pun meragukan kebejatan Muawiyah bin Abu Sufyan dan putranya Yazid kecuali orang-orang yang memang juga bejat. Saya katakan demikian karena banyak sekali bukti dan data sejarah tentang bid’ah-bid’ah yang dilakukan kedua lelaki durjana ini. Dan hanya orang-orang yang sama bejat seperti mereka-lah orang-orang yang membela kebejatan lelaki durjana ini.
Inilah di antara bid’ah-bid’ah nyata yang tidak diteriakan bahkan bicarakan oleh Ibn Taymiyah, Bin Baz, dan Utsaimin dan ulama Wahabi lainnya. Mereka takut membicarakan hal seperti ini karena akan berakibat hilangnya harta duniawi yang mereka dapatkan dari Kerajaan Saudi pelanjut kezaliman Daulah Umayyah dan Abbasiyah!
Hal-hal seperti inilah yang membuat mereka, kaum Wahabi menghindar dari membicarakan sejarah Islam, terutama sejarah Daulah Bani Umayyah dan Abbasiyyah. Dan sikap jujur yang dilakukan Sayyid Quthb ini menyebabkan ulama Wahabi murka dan mengeluarkan fatwa seraya mencari-cari kesalahan Sayyid Quthb. Bacalah situs-situs Wahabi tentang fatwa mereka atas Sayyid Quthb yang terkenal jujur dan berani ini! Marilah kita semua bercermin dan bersikap jujur terhadap diri kita sendiri!
Laa hawla wa laa quwwata illa billah
Catatan Kaki :
[1] Sayyid Quthb, Al-‘Adalah al-Ijtima’iyyah fil Islam; Keadilan Sosial Dalam Islam, hal. 260, Penerbit Pustaka Salman, 1984.
[2] Sayyid Quthb mengutip peristiwa sejarah ini dari sejarawan Ibn Atsir yang mengatakan bahwa peristiwa ini terjadi pada 56 H.

Sabtu, 04 Mei 2013

Misteri Makam Imam Ali Ibn Abi Tholib di Najaf

Para ulama berselisih tentang dimana letak makam Imam Ali Karramallaha Wajhahu, ada yang mengatakan di kufah
, di Qiblah di tengah-tengah masjid di Kufah, dan sebagian yang lain menulis di pintu pagar yang dikenali sebagai Rab al-Kinda di masjid Kufah. ada yang lain mengatakan makam imam Ali terletak di sebelah kuburan Sayyidah Fatimah di Baqi.
Amirul Mukminin Ali telah berwasiat supaya jasadnya dikebumikan di tempat yang tersembunyi di waktu malam dengan tidak meninggalkan sembarang kesan. Sehingga hanya beberapa orang saja dari kalangan sahabat, keluarga dan juga anak-anaknya yang hadir sewaktu beliau dikebumikan. Pada pagi 21 Ramadhan, dua keranda telah disediakan. Satu menuju ke Mekah dan satu lagi menuju Madinah. Itulah sebabnya, selama beberapa tahun makamnya tidak diketahui orang,
Adapun tentang hal ini telah disebutkan dari Imam Ja’far al-Sadiq (Keturunan ke-6 Imam Ali) pada saat wafatnya Amirul Mukminin Ali , beliau Imam Ali berkata kepada anaknya Imam Husain yaitu setelah mengkebumikannya di Najaf, dia (Husain Rahimakumullah) perlu menyediakan empat lagi kuburan untuknya di tempat yang berbeda, i) di Masjid Kufah, ii) di Rahbah, iii) di rumah Jo’dah Hirah dan, iv) di Ghirah, supaya tiada seorang pun akan mengetahui makam yang sebenarnya.
Mengapa dirahasiakan??
karena ketegangan dan situasi politik waktu itu pertikaian antara pengikut Imam Ali dan pengikut Muawiyah yang dikhawatirkan Kuburan imam Ali akan menjadi sarana cacimaki dan penghinaaan dari pengikut pihak yang berseberangan
Selama beberapa ratus tahun makamnya masih tidak diketahui oleh orang awam, hinggalah pada masa pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid. Pada suatu hari khalifah Abbasiyyah ini pergi berburu di Najaf, tempat yang terkenal karana banyak rusa. Sewaktu anjing-anjing buruan mengejar, rusa-rusa mencari perlindungan di atas bukit Najaf., di mana semua anjing-anjing buruan tersebut enggan mendakinya. Apabila anjing buruan tiada, rusa-rusa itu akan turun dari bukit tersebut, tetapi apabila anjing buruan mengejar kembali, rusa-rusa tersebut lari kembali ke atas bukit sebagai tempat perlindungan. Lalu Khalifah bertanya kepada salah seorang penduduk setempat
Orang itu menjawab dengan mengatakan bahwa dia mengetahui akan rahasia sebuah makam di situ tetapi dia takut hendak membocorkannya. Khalifah berjanji tidak akan mengapa-apakannya jika dia menerangkanya. Menurut penduduk tsb, pada suatu hari, dia bersama-sama dengan bapanya merawat makam disana. Lalu dia bertanya makam siapakah sebenarnya? bapanya menjawab ia pernah ketempat tersebut dengan Imam Ja’far al-Sadiq untuk tujuan ziarah. Imam Jakfar berkata bahwa itu adalah kuburan kakeknya, Amirul Mukminin Ali,

Atas perintah kalifah Harun al rasyid, tempat itu dibongkar dan kelihatan sebuah perkuburan yang di atasnya terdapat sebuah batu, yang terdapat tulisan dalam bahasa Syria lama, yang berbunyi:”Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang, Kubur ini telah disediakan oleh Nabi Nuh AS untuk Ali, Pengganti Mohammad SAW, 700 tahun sebelum banjir besar.”
Khalifah menghormati tempat tersebut dan memerintahkan supaya diperbaiki. Kemudian dia pergi mengambil wudhuk dan solat dua rakaat. Beliau menangis di samping makam tersebut. kemudian dengan perintahnya yang berhubungan dengan semua peristiwa tersebut, dia menulis surat kepada Imam Musa al-Kazim (Generasi ke-7 Imam Ali) di Madinah bertanya tentang perkara tersebut. Imam Musa membenarkan bahwa, Amirul Mukminin Ali telah dikebumikan di tempat yang sama. Atas arahan khalifah Harun, sebuah bangunan telah didirikan di situ yang kemudiannya dikenali sebagai Hajir Haruni, Tidak lama kemudian, berita ini telah tersebar luas dan orang-orang Mukmin mulai berkunjung datang untuk berziarah ke situ.
Suatu hal yang mungkin mustahil bagi banyak orang yang meragukannya, bagaimana bisa Nabi NUH AS mengetahui nama Ali dan Mempersiapkan pekuburan untuk beliau?
Sebuah penemuan yang menghebohkan akhir2 ini yang diklaim sebagai bahtera nabi Nuh di pegunungan Turki Timur bisa sedikit menjelaskan
Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap Lembah Kaat. untuk menemukan sebuah tambang baru di daerah tersebut.Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut .Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ. Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan, setelah meneliti beberapa lapisanya, bahwa kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, Mereka mengekskavasi tempat tersebut .Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi. Mereka terkejut setelah mendapati bahwa potongan kayu yang berukuran 14 X 10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain. Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh a.s. yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy). Dan potongan (pelat) kayu tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut. Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada tanggal 27 Februari 1953.
Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:
1. Prof. Solomon, Universitas Moskow
2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China
3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil
4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College
5. Prof. De Pakan, Institut Lenin
6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen
7. Mayor Cottor, Stalin College
Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi Nuh a.s., dan bahwa Nabi Nuh a.s. telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi.
Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa Saamaani.
Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Manchester, Inggris telah menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:
“Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari DzatMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia.”
Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia.
Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut,
Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:
1. Weekly – Mirror, Inggris 28 Desember 1953
2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954
3. Manchester Sunlight, 23 Januari 1954
4. London Weekly Mirror, 1 Februari 1954
5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954
6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954
7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969
Cat : Shabbar da Shabbir adl bhsa Sarmani yg artinya Hasan dan Husain (Putra2 Imam Ali as dan Fathimah as ),kelima nama tersebut dlm islam srg disbt dg “Ahlul Kisa”

Senin, 21 Januari 2013

SURAT PERINTAH MUAWIYAH DAN YAZID UNTUK MEMBUNUH IMAM HUSAIN CUCU NABI SAW



Berkata Syaikul Islam Ibnu Taimiyah—rahimahullah, “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Al Husain . Hal ini berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan kepada Ibnu Ziyad untuk mencegah Al Hasan menjadi penguasa negeri Iraq.” Ketika kabar tentang terbunuhnya Al Husain sampai kepada Yazid, maka nampak terlihat kesedihan di wajahnya dan suara tangisan pun memenuhi rumahnya. Kaum wanita rombongan Al Husain yang ditawan oleh pasukan Ibnu Ziyad pun diperlakukan secara hormat oleh Yazid hingga mereka dipulangkan ke negeri asal mereka. Dalam buku-buku Syiah, mereka mengangkat riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa wanita-wanita Ahlul Bait yang tertawan diperlakukan secara tidak terhormat. Mereka dibuang ke negeri Syam dan dihinakan di sana sebagai bentuk celaan kepada mereka. Semua ini adalah riwayat yang batil dan dusta. Justru sebaliknya, Bani Umayyah memuliakan Bani Hasyim.Disebutkan pula bahwa kepala Al Husain dihadapkan kepada Yazid. Tapi riwayat ini pun tidak benar, karena kepala Al Husain masih berada di sisi Ubaidillah bin Ziyad di Kufah.
 
Ibnu Jawi al Jogjakartani menanggapi
Ibnu Taimiyah dan Ahlul bait
Diatas disebutkan bahwa sumber yang dipakai untuk membantah bahwa Yazid bin Muawiyah tidak terlibat pembunuhan Imam Husain adalah Ibnu Taimiyah, seperti diketahui bersama bahwa Ibnu Taimiyah memiliki kebencian yang luarbiasa pada Ahlul bait  dan memiliki kecintaan yang bukan  alang kepalang kepada Muawiyah dan Yazid  sebuah kitab berjudul “Fadho’il Muawiyah wa Yazid” (Keutamaan Muawiyah dan Yazid) didesikasikan untuk Muawiyah dan Yazid. Berikut adalah bukti-bukti Ibnu taimiyah menampakan kebencian kepada Ahlul Ba’it (salah satunya Imam Ali bin Abi Tholib) yang dinukil dari kitabnyua sendiri Minhaj as Sunnah:

 

1. Ibnu Taimiyah menolak kekhalifahan Imam ali bin Abi Thalib  “Diriwayatkan dari Syafi’i dan pribadi-pribadi selainnya, bahwa khalifah ada tiga; Abu Bakar, Umar dan Usman”.[1]
2. Ibnu Taimiyah menolak  ke imamahan Imam Ali  “Manusia telah bingung dalam masalah kekhilafan Ali (karena itu mereka berpecah atas) beberapa pendapat; Sebagian berpendapat bahwa ia (Ali) bukanlah imam, akan tetapi Muawiyah-lah yang menjadi imam. Sebagian lagi menyatakan, bahwa pada zaman itu tidak terdapat imam secara umum, bahkan zaman itu masuk kategori masa (zaman) fitnah”.[2]
3. “Dari mereka terdapat orang-orang yang diam (tidak mengakui) atas (kekhalifahan) Ali, dan tidak mengakuinya sebagai khalifah keempat. Hal itu dikarenakan umat tidak memberikan kesepakatan atasnya. Sedang di Andalus, banyak dari golongan Bani Umayyah yang mengatakan: Tidak ada khalifah. Sesungguhnya khalifah adalah yang mendapat kesepakatan (konsensus) umat manusia. Sedang mereka tidak memberi kesepakatan atas Ali. Sebagian lagi dari mereka menyatakan Muawiyah sebagai khalifah keempat dalam khutbah-khutbah jum’atnya. Jadi, selain mereka menyebutkan ketiga khalifah itu, mereka juga menyebut Muawiyah sebagai (khalifah) keempat, dan tidak menyebut Ali”.[3]
4. “Kita mengetahui bahwa sewaktu Ali memimpin, banyak dari umat manusia yang lebih memilih kepemimpinan Muawiyah, atau kepemimpinan selain keduanya (Ali dan Muawiyah)…maka mayoritas (umat) tidak sepakat dalam ketaatan”.[4]
 
Dan menariknya lagi ulama-ulama ahlu sunnah banyak juga yang mengomentari atas sikapnya yang berlebihan yang melecehkan Imam Ali dan Ahlul Ba’it Nabi dalam Kitab Minhaj dan tersebut :
1.    Ibnu Hajar al-Asqalani dalam menjelaskan tentang pribadi Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ia terlalu berlebihan dalam menghinakan pendapat rafidhi (Allamah al-Hilli seorang ulama Syiah. red) sehingga terjerumus kedalam penghinaan terhadap pribadi Ali”.[5]
2.    Allamah Zahid al-Kautsari mengatakan: “…dari beberapa ungkapannya dapat dengan jelas dilihat kesan-kesan kebencian terhadap Ali”.[5]
3.    Syeikh Abdullah Ghumari pernah menyatakan: “Para ulama yang sezaman dengannya menyebutnya (Ibnu Taimiyah) sebagai seorang yang munafik dikarenakan penyimpangannya atas pribadi Ali”.[6]
4.    Syeikh Abdullah al-Habsyi berkata: “Ibnu Taimiyah sering melecehkan Ali bin Abi Thalib dengan mengatakan: Peperangan yang sering dilakukannya (Ali) sangat merugikan kaum muslimin”.[7]
5.    Hasan bin Farhan al-Maliki menyatakan: “Dalam diri Ibnu Taimiyah terdapat jiwa ¬nashibi dan permusuhan terhadap Ali”.[8]
6.    Hasan bin Ali as-Saqqaf berkata: “Ibnu Taimiyah adalah seorang yang disebut oleh beberapa kalangan sebagai ‘syeikh Islam’, dan segala ungkapannya dijadikan argumen oleh kelompok tersebut (Salafy). Padahal, ia adalah seorang nashibi yang memusuhi Ali dan menyatakan bahwa Fathimah (puteri Rasulullah. red) adalah seorang munafik”.[9]
 
Demikian pula dalam kasus Imam Husain bagaimana Ibnu taimiyah membela matimatian Yazid bin Muawiyah, sebagaimana   dalam Su’al fi Yazid bin Muawiyah, Ibnu Taimiyah mengatakan: “Yazid tidak menginginkan pembunuhan Husein, ia bahkan menunjukkan ketidaksenangannya atas peritiwa tersebut, Yazid tidak pernah memerintahkan untuk membunuh Husein, kepala-kepala (peristiwa Karbala) tidak dihadirkan di hadapannya, ia tidak memukul gigi-gigi kepala Husein dengan kayu. Akan tetapi, Ubaidillah bin Ziyad-lah yang melakukan itu semua” di halaman lain  Ibnu taimiyah mengatakan pula “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Al Husain . Hal ini berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan kepada Ibnu Ziyad untuk mencegah Al Hasan menjadi penguasa negeri Iraq.”
saking ngefan dan memujanya Ibnu Taimiyah pada Yazid sampai-sampai dalam peristiwa Hara pun Ibnu taimiyah membelanya. bahkan ketika Yazid  melakukan perusakan Ka’bah sebagaimana Abrahah Ibnu taimiyah pun membela lagi  dalam kitabnya Su’al fi Yazid bin Muawiyah, Ibnu Taimiyah mengatakan:
“Tidak seorang muslim pun yang mau bermaksud menghinakan Ka’bah, bukan wakil Yazid, juga bukan wakil Abdul Malik yang bernama Hajjaj bin Yusuf, ataupun selain mereka berdua, bahkan segenap kaum muslimin bermaksud untuk mengagungkan Ka’bah. Jadi, kalaulah Masjid al-Haram dikepung, hal itu karena pengepungan terhadap Ibnu Zubair. Pelemparan menggunakan manjanik-pun tertuju kepadanya. Yazid tidak ada maksud untuk membakar dan merusak Ka’bah, Ibnu Zubair yang telah melakukan semua itu”.  Dikalangan Ahlu sunnah sendiri Ibnu Taimiyah dikatagorikan orang yang sesat lihat di syiahnews.wordpress.com
Benarkah Muawiyah idak memerintahkan membunuh Husain as ?

 
 Kebencian Bani Umayyah yang oleh Allah dalam Al Qur’an  al Isra : 60 dijuluki sebaga al syajarah al Mal’unah (pohon kayu terkutuk/terlaknat) kepada Rasulullah saw dan Ahlul Ba’itnya memang tak disangsikan lagi, termasuk diantaranya sekenario pembunuhan terhadap Imam Husain as, perencanaan pembunuhan itu disusun sendiri oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan dan dilanjutkan oleh Yazid bin Muawiyah, adapun buktinya adalah surat yang dikirimkan oleh Muawiyyah kepada Yazid berikut  isi surat itu :
Kepada Yazid dari Muawiyyah bin abi sufyan, tak pelak, kematian adalah peristiwa yang sungguh menyeramkan dan sangat merugikan bagi seorang lelaki berkuasa seperti ayahmu. Namun, biarkanlah, semua peran telah kumainkan. Semua impianku telah kuukirkan pada kening sejarah dan semuanya telah terjadi, Aku sangat bangga telah berjaya membangun kekuasaan atas nama para leluhur Umayyah.
Namun, yang kini membuatku gundah dan tak nyenyak tidur adalah nasib dan kelanggengan pada masa-masa mendatang, Maka camkanlah, putraku, meski tubuh ayhmu telah terbujur dalam perut bumi, kekuasaan ini, sebagaimana yang di inginkan Abu sofyan  dan seluruh orang, haruslah menjadi hak abadi putra-putra dan keturunanku.
Demi mempertahankannya, beberapa langkah mesti kau ambil, Berikan perhatian istimewa kepada warga syam. Penuhi seluruh kebutuhan dan saran-saran mereka, Kelak mereka dapat kaujadikan sebagai tumbal dan perisai. Mereka akan menjadi serdadu-serdadu berdarah dingin yang setia kepadamu.
Namun, ketahuilah, kedudukan dan kekuasaan ini adalah incaran banyak orang bak seekor kelinci  manis ditengah gerombolan serigala lapar. Maka, waspadalah terhadap empat tokoh masyarakat yang ku sebut dibawah ini :
pertama adalah  ‘Abdurahman bin Abu Bakar, pesanku, jangan terlalu khawatir menghadapinya, ia mudah di bius dengan harta dan gemerlap pesta. Benamkan dia dalam kesenangan, dan seketika ia menjadi dungu, bahkan  pendukungm.
  dua Abdullah bin Umar bin al Khatab,  ia menurut pengakuanya, hanya peduli pada agama dan akherat, seperti mendalami dan mengajarkan Al qur’an dan mengurung diri dalam mihrab masjid. Aku meramalkan, ia tidak terlalu berbahaya bagi keududkanmu, karena dunia dimatanya adalah kotor, sedangkan panji-panji Muhammad adalah harapan pertama dan terakhir. Biarkan putra kawanku ini larut dalam upacara-upacara keagamaanya dan menikmati mantra-mantranya
Ketiga adalah ‘Abdullah bin Zubair, Ia seperti ayahnya bisa memainkan dua peran, serigala dan harimau. Pantaulah selalu gerak geriknya, jika berperan sebagai serigala, ia hanya melahap sisa-sisa makanan harimau dan ia tidak akan mengusikmu. Apabila memperlihatkan sikap lunak, sertakanlah cucu Al ‘Awam ini dalam rapat-rapat pemerintahanmu. Namun jika ia berperan seperti Harimau, yaitu berambisi merebut kekuasaanmu, maka janganlah mengulur-ulur waktu mengemasnya dalam keranda. Ia cukup berani, cerdik dan bangsawan.
Keempat adalah Husain bin Ali bin Abi Thalib, sengaja aku letakkan namanya pada urutan terakhir, karena ayahmu ingin mengulasnya lebih panjang. Nasib kekuasanmu sangat ditentukan oleh sikap dan caramu  dalam menghadapinya. Bila kuingat namanya, kuingat pada kakek, ayah, ibu dan saudaranya. Bila semua itu teringat, maka serasa sebonngkah  kayu menghantam kepalaku dan jilatan api cemburu membakar jiwaku. Putra kedua musuh bebuyutanku ini akan menjadi pusat perhatian dan tumpuan masyarakat.
Pesanku, dalam jangka sementara, bersikaplah lembut padanya, karena, sebagaimana kau sendiri ketahui, darah Muhammad mengalir di tubuhnya, Ia pria satria, putra pangeran jawara, susu penghulu para ksatria. Ia pandai, berpenampilan sangat menarik, dan gagah. Ia mempunyai semua alasan untuk disegani, dihormati dan di taati
Namun, bila sikap tegas dibutuhkan dan keadaan telah mendesak, kau harus mempertahankan kekuasaan yang telah kuperoleh  dengan susah payah ini, apapun akibatnya, tak terkecuali menebas batang leher al Husain dan menyediakan sebidang tanah untuk menanam seluruh keluarga dan pengikutnya. Demikianlah surat pesan ayahmu yang ditulis dalam keadaan sakit. Harapanku, kau siap-siap melaksanakan pesan-pesanku tersebut “
Dan surat tersebut di antar oleh Adh Dhahhak bin Qais al Fihri kepada Yazid bin Muawiyah, sebagian sejahrawan  menyebutkan bahwa Muawiyyah sempat  menasehati  Yazid dengan statment sama seperti surat yang tertulis diatas. [10]
Reaksi Yazid bin Muawiyyah setelah matinya Muawiyah adalah  memerintahkan Al Walid bin Uthbah untuk  memaksa orang-orang yang disebut dalam waisat bapaknya agar  berbai’at kepadanya. Surat perintah tersebut didokumentasikan oleh para ahli sejarah, berikut kutipan lengkapnya :
Surat ditujukan kepada al Walid Ibn Utba :
Panggil al Husain Ibn Ali Ibn Abi Thalib (as)  dan Abdullah Ibn Zubair, Minta padanya untuk membaiat kekhalifaanku ! dan jika mereka menolak, pisahkan kepalanya dari tubuhnya dan kirimkan padaku di Damaskus ! Juga galanglah baiat untukku dari orang-orang madinah, dan jika ada yang menolak, maka perintah yang telah aku keluarkan juga berlaku untuk mereka ! [11]
Bukti kedua bukti surat diatas adalah bukti difinitif yang membuktikan bahwa Muawiyah dan Yazid memerintahkan untuk membunuh Husain as. Kegagalan pengambilan paksa bai’at kepada Imam Husain tersebut  diteruskan kepada perwira-perwira lapangan, salah satu surat  tersebut  memerintahkan pembunuhan dan perusakan jenazah Imam Husain,  dalam surat tersebut di Perintah kepada Ibn Sa’ad,  agar memilih satu diantara dua perintah : segera menyerang Husain atau menyerahkan komando tentara kepada Syimr, dan  bila Husain gugur dalam pertempuran, tubuhnya harus di injak-injak [12]
Benarkah Yazid tidak memukul kepala dan gigi imam Husain ?
Dalam kitabnya Su’al fi Yazid bin Muawiyah, Ibnu Taimiyah mengatakan: “Yazid tidak menginginkan pembunuhan Husein, ia bahkan menunjukkan ketidaksenangannya atas peritiwa tersebut, Yazid tidak pernah memerintahkan untuk membunuh Husein, kepala-kepala (peristiwa Karbala) tidak dihadirkan di hadapannya, ia tidak memukul gigi-gigi kepala Husein dengan kayu. Akan tetapi, Ubaidillah bin Ziyad-lah yang melakukan itu semua”.
Benarkah bualan Ibnu Taimiyah itu ? mari kita uji dengan pandangan ulama Sunni yang lain :
Ibnu Atsir dalam kitabnya menukil ucapan Abdullah bin Abbas ra kepada Yazid, Ibnu Abbas berkata, “Engkaulah (Yazid) yang telah penyebab terbunuhnya Husein bin Ali”. Ibnu Atsir dalam kitab yang sama menulis, “Yazid memberi izin kepada masyarakat untuk menemuinya sedangkan kepala Husein bin Ali as ada di sisinya, sambil ia memukuli muka kepala tersebut sembari mengucapkan syair”. Sementara Taftazani, seorang pemuka Ahlusunnah mengatakan: “Pada hakikatnya, kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Husein dan penghinaannya atas Ahlul Bait (keluarga Rasul) merupakan suatu hal yang mutawatir (diterima oleh mayoritas), sedang kami tidak lagi meragukan atas kekafirannya (Yazid), semoga laknat Allah tertuju atasnya dan atas penolong dan pembelanya”. Sedang Mas’udi dalam kitab Muruj adz-Dzahab dengan jelas menuliskan “Suatu hari, setelah peristiwa terbunuhnya Husein, Yazid duduk di hidangan minuman khamr sedang di samping kanannya duduk Ibnu Ziyad”.
Menarik lagi jika diperhatikan Sabath Ibn al Jauzi ia menuliskan :  Ketika ahlul bait sampai ke syam dalam keadaan tertawan, Yazid duduk di Istananya, menghadap ke arah balkon, dan Yazid meminta sorang penyair melantunkan syairnya :
 
Ketika kepala-kepala itu mulai tampak
Terlihatlah kepala para pembangkang itu di atas balkon
Burung gagak berkoak koak
Aku berkata ” Hutang-Hutangku kepada Nabi telah terlunasi. [13]
Ulama-ulama ahlu sunnah lainya menceritakan dalam kitab-kitabnya : Yazid menyambut gembira  dengan terbunuhnya Imam al Husain, ia kemudian mengundang kaum yahudi dan Nasrani  untuk mendatangi majelisnya, yazid meletakkan kepala al husain di Hadapanya sambil mendengarkan syair-syair yang dilantunkan oleh Asyar bin al Zubari :
Seandainya para leluhurku di Badar
Menyaksikan kesedihan kaum al Khazraj
Karena patahnya lembing mereka
Mereka pasti akan senenang melihat hal ini
Kemudian mereka berkata :
”Hai Yazid seharusnya jangan kau potong kepalanya
Sesungguhnya kami telah membunuh pemuka mereka
Terbunuhnya ia sebanding dengan kekalahan kita di Badar
Hasyim mencoba bermain-main dengan Sang Penguasa
Akibatnya, tidak ada berita dan tidak ada yang hidup
Aku bukanya sombong, jika aku tidak membalas dendam kepada keturunan Bani Muhammad
Namun, kami telah membalas dendam kepada Ali Dengan mebunuh si Husain pengendara kuda. Si singa pemberani
Para sejahrawan ahlu sunnah seperti  menuliskan bahwa ketika lantunkan syair bait kedua di atas Yazid memukul gigi depan Imam Husain dengan tongkatnya [14]
Tentang Tangisan  Yazid (dan Muawiyah)