Siapa yang tidak mengenal
Abdullah bin Saba’?. Sosoknya sering
dijadikan bahan celaan oleh nashibi untuk mengkafirkan Syiah. Menurut
khayalan para nashibi, Abdullah bin Saba’ adalah pendiri Syiah, seorang
Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam dan menyebarkan keyakinan yang
menyimpang dari Islam. Diantara keyakinan yang menyimpang tersebut
adalah
- Penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]
- Mencela sahabat Nabi yaitu Abu Bakar [radiallahu ‘anhu], Umar
bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] dan Utsman bin ‘Affan [radiallahu’anhu]
- Upaya pembunuhan Khalifah Utsman bin ‘Affan [radiallahu ‘anhu]
- Sikap ghuluw terhadap Ali [radiallahu ‘anhu] dan Ahlul Bait
- Mencetuskan aqidah bada’ dan tidak meninggalnya Ali [radiallahu ‘anhu]
Nashibi tersebut melanjutkan fitnahnya dengan menyatakan bahwa Syiah
mengambil aqidah-aqidah mereka dari Abdullah bin Saba’ dan sampai
sekarang masih meyakini aqidah-aqidah tersebut dan membelanya.
Jika diteliti dengan baik maka sebenarnya nashibi tersebut tidak
memiliki landasan kokoh atau dasar yang shahih dalam tuduhan mereka
tentang Abdullah bin Saba’. Peran Abdullah bin Saba’ yang luar biasa
sebagaimana disebutkan nashibi di atas tidaklah ternukil dalam riwayat
yang shahih. Nashibi mengais-ngais riwayat dhaif dalam kitab Sirah yaitu
riwayat Saif bin Umar At Tamimiy seorang yang dikatakan
matruk, zindiq, pendusta bahkan pemalsu hadis.
Dari orang seperti inilah nashibi mengambil aqidah mereka tentang
Abdullah bin Saba’. Maka tidak berlebihan kalau nashibi yang ngaku-ngaku
salafy tersebut kita katakan sebagai pengikut Saif bin Umar.
Syiah sebagai pihak yang difitnah membawakan pembelaan. Para ulama
Syiah telah banyak membuat kajian tentang Abdullah bin Saba’. Secara
garis besar pembelaan mereka terbagi menjadi dua golongan
- Golongan yang menafikan keberadaan Abdullah bin Saba’, dengan
kata lain mereka menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif
yang dimunculkan oleh Saif bin Umar
- Golongan yang menerima keberadaan Abdullah bin Saba’ tetapi
mereka membantah kalau ia adalah pendiri Syiah, bahkan menurut mereka
Abdullah bin Saba’ adalah seorang ekstrim ghulat yang dilaknat oleh para
Imam Ahlul Bait.
Bukan nashibi namanya kalau diam saja terhadap Syiah. Nashibi
tersebut membantah dengan menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ bukan
tokoh fiktif dan tidak hanya muncul dalam riwayat Saif bin Umar tetapi
juga ada dalam riwayat-riwayat lain yang mereka katakan shahih.
Riwayat-riwayat itulah yang akan dibahas dalam tulisan ini.
.
.
.
Riwayat Abdullah bin Sabaa’ Dalam Kitab Sunniy
حَدَّثَنَا عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ ، قَالَ : أنا شُعْبَةُ ، عَنْ
سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ ، قَالَ : قَالَ عَلِيٌّ
: مَا لِي وَلِهَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ ، يَعْنِي : عَبْدَ اللَّهِ
بْنَ سَبَإٍ ، وَكَانَ يَقَعُ فِي أَبِي بَكْرٍ ، وَعُمَرَ
Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Marzuuq yang berkata
telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Zaid
bin Wahb yang berkata Ali berkata apa urusanku dengan orang jelek yang
hitam ini? Yakni ‘Abdullah bin Saba’ dia mencela Abu Bakar dan Umar [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah 3/177 no 4358]
‘Amru bin Marzuuq terdapat perbincangan atasnya. Ahmad bin Hanbal dan
Ibnu Ma’in berkata “tsiqat ma’mun”. Abu Hatim dan Ibnu Sa’ad menyatakan
ia tsiqat. As Sajiy berkata shaduq. Ali bin Madini meninggalkan
hadisnya. Abu Walid membicarakannya. Yahya bin Sa’id tidak meridhai
‘Amru bin Marzuuq. Ibnu ‘Ammar Al Maushulliy berkata “tidak ada
apa-apanya”. Al Ijliy berkata “Amru bin Marzuuq dhaif, meriwayatkan
hadis dari Syu’bah yang tidak ada apa-apanya”. Daruquthni berkata
“shaduq banyak melakukan kesalahan”. Al Hakim berkata “buruk
hafalannya”. Ibnu Hibban berkata “melakukan kesalahan” [At Tahdzib juz 8
no 160]
‘Amru bin Marzuuq tafarrud dalam penyebutan lafaz “yakni Abdullah bin
Saba’ dia mencela Abu Bakar dan Umar”. Muhammad bin Ja’far Ghundar
seorang yang paling tsabit riwayatnya dari Syu’bah tidak menyebutkan
lafaz tersebut.
أخبرنا أبو القاسم يحي بن بطريق بن بشرى وأبو محمد عبد الكريم ابن حمزة
قالا : أنا أبو الحسين بن مكي ، أنا أبو القاسم المؤمل بن أحمد بن محمد
الشيباني ، نا يحيى بن محمد بن صاعد، نا بندار ، نا محمد بن جعفر ، نا شعبة
، عن سلمة ، عن زيد بن وهب عن علي قال : مالي وما لهذا الحميت الأسود ؟
قال: ونا يحي بن محمد ، نا بندار ، نا محمد بن جعفر ، نا شعبة عن سلمة قال:
سمعت أبا الزعراء يحدث عن علي عليه السلام قال: مالي وما لهذا الحميت
الأسود
Telah mengabarkan kepada kami Abu Qaasim Yahya bin Bitriiq bim
Bisyraa dan Abu Muhammad Abdul Kariim bin Hamzah keduanya berkata telah
menceritakan kepada kami Abu Husain bin Makkiy yang berkata telah
menceritakan kepada kami Abu Qaasim Mu’ammal bin Ahmad bin Muhammad Asy
Syaibaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad
bin Shaa’idi yang berkata telah menceritakan kepada kami Bundaar yang
berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata
telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah dari Zaid bin Wahb
dari Aliy yang berkata “apa urusanku dengan orang jelek hitam ini?”.
[Mu’ammal] berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad
yang berkata telah menceritakan kepada kami Bundaar yang berkata telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah
menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah yang berkata aku mendengar
Abu Az Za’raa menceritakan hadis dari Ali [‘alaihis salaam] yang
berkata “apa urusanku dengan orang jelek yang hitam ini?” [Tarikh Ibnu Asakir 29/7]
Riwayat Ibnu Asakir ini sanadnya shahih. Abu Muhammad Abdul Kariim
bin Hamzah disebutkan Adz Dzahabiy bahwa ia syaikh tsiqat musnad
dimasyiq [As Siyar 19/600]. Abu Husain bin Makkiy adalah Muhammad bin
Makkiy Al Azdiy Al Mishriy muhaddis musnad yang tsiqat [As Siyaar
18/253]. Mu’ammal bin Ahmad Asy Syaibaniy dinyatakan tsiqat oleh Al
Khatib [Tarikh Baghdad 13/183]. Yahya bin Muhammad bin Shaa’idi seorang
imam hafizh musnad iraaq dinyatakan tsiqat oleh Al Khaliliy [As Siyaar
14/501]. Bundaar adalah Muhammad bin Basyaar perawi kutubus sittah yang
tsiqat [At Taqrib 2/58]
Muhammad bin Ja’far Ghundaar adalah perawi kutubus sittah yang
tsiqat. Ia termasuk perawi yang paling tsabit riwayatnya dari Syu’bah.
Ibnu Madini berkata “ia lebih aku sukai dari Abdurrahman bin Mahdiy
dalam riwayat Syu’bah”. Ibnu Mahdiy sendiri berkata “Ghundaar lebih
tsabit dariku dalam riwayat Syu’bah”. Al Ijliy berkata orang Bashrah
yang tsiqat, ia termasuk orang yang paling tsabit dalam hadis Syu’bah”
[At Tahdzib juz 9 no 129].
Lafaz Abdullah bin Saba’ dalam riwayat Ibnu Abi Khaitsamah mengandung
illat [cacat] yaitu tafarrud ‘Amru bin Marzuuq. Ghundaar perawi yang
lebih tsabit darinya tidak menyebutkan lafaz ini. ‘Amru bin Marzuuq
adalah perawi yang shaduq tetapi bukanlah hujjah jika ia tafarrud
sebagaimana telah ternukil jarh terhadapnya dan lafaz “yakni ‘Abdullah
bin Saba’ dia mencela Abu Bakar dan Umar” adalah tambahan lafaz dari
‘Amru bin Marzuuq.
.
.
.
Riwayat selanjutnya yang dijadikan hujjah oleh para nashibi adalah
riwayat yang menyebutkan bahwa orang hitam jelek itu adalah Ibnu Saudaa’
حدثنا محمد بن عباد ، قال : حدثنا سفيان ، عن عمار الدهني ، قال : سمعت
أبا الطفيل يقول : رأيت المسيب بن نجية أتى به ملببه ؛ يعني : ابن السوداء
، وعلي على المنبر ، فقال علي : ما شأنه ؟ فقال : يكذب على الله وعلى
رسوله صلى الله عليه وسلم
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbaad yang berkata
telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari ‘Ammaar Ad Duhniy yang
berkata aku mendengar Abu Thufail mengatakan “aku melihat Musayyab bin
Najbah datang menyeretnya yakni Ibnu Saudaa’ sedangkan Ali berada di
atas mimbar. Maka Ali berkata “ada apa dengannya?”. Ia berkata “ia
berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya” [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah
3/177 no 4360]
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ الْمَكِّيُّ ، نا سُفْيَانُ ،
قَالَ : نا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ عَبَّاسٍ الْهَمْدَانِيُّ ، عَنْ
سَلَمَةَ ، عَنْ حُجَيَّةَ الْكِنْدِيِّ ، رَأَيْتُ عَلِيًّا عَلَى
الْمِنْبَرِ ، وَهُوَ يَقُولُ : مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ هَذَا الْحَمِيتِ
الأَسْوَدِ الَّذِي يَكْذِبُ عَلَى اللَّهِ ، يَعْنِي : ابْنَ السَّوْدَاءِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbaad Al Makkiy
yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata telah
menceritakan kepada kami ‘Abdul Jabbar bin ‘Abbas Al Hamdaniy dari
Salamah dari Hujayyah Al Kindiy yang berkata “aku melihat Ali di atas
mimbar dan ia berkata “siapa yang dapat membebaskan aku dari orang jelek
hitam ini ia berdusta atas nama Allah, yakni Ibnu Saudaa’ [Tarikh Ibnu
Abi Khaitsamah 3/177 no 4359]
Kedua riwayat ini bersumber dari Muhammad bin ‘Abbaad Al Makkiy
termasuk perawi Bukhari dan Muslim. Ia seorang yang shaduq hasanul
hadis, sering salah dalam hadis. Ibnu Ma’in dan Shalih Al Jazarah
berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat”. Ibnu
Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahrir At Taqrib no 5993].
Diantara kesalahannya dalam hadis telah dinukil oleh Ibnu Hajar dalam At
Tahdzib yaitu hadis-hadisnya dari Sufyan yang diingkari bahkan ada
hadisnya yang dinyatakan batil dan dusta oleh Ali bin Madini [At Tahdzib
juz 9 no 394]. Riwayat di atas termasuk riwayatnya dari Sufyan.
Jika kedua riwayat tersebut selamat dari kesalahan Muhammad bin
‘Abbaad Al Makkiy maka kedudukannya hasan. Tetapi riwayat ini bukanlah
hujjah bagi nashibi. Siapakah Ibnu Saudaa’ yang dimaksud dalam riwayat
tersebut?. Apakah ia adalah Abdullah bin Sabaa’?. Kalau memang begitu
mana dalil shahihnya bahwa Abdullah bin Sabaa’ adalah Ibnu Saudaa’.
Orang yang pertama kali menyatakan Abdullah bin Sabaa’ disebut juga Ibnu
Saudaa’ adalah Saif bin Umar At Tamimiy dan ia seperti yang telah
dikenal seorang yang dhaif zindiq, matruk, kadzab dan pemalsu hadis. Ada
sebagian ulama yang mengutip Abdullah bin Sabaa’ sebagai Ibnu Saudaa’
tetapi pendapat ini tidak ada dasar riwayat shahih kecuali mengikuti
apa yang dikatakan oleh Saif bin Umar.
Lafaz Ibnu Saudaa’ pada dasarnya bermakna anak budak hitam, dan ini
bisa merujuk pada siapa saja yang memang anak dari budak hitam. Kalau
para nashibi atau orang yang sok ngaku ulama nyalafus shalih ingin
menyatakan bahwa Ibnu Saudaa’ yang dimaksud adalah Abdullah bin Sabaa’
maka silakan bawakan dalil shahihnya. Silakan berhujjah dengan kritis
jangan meloncat sana meloncat sini dalam mengambil kesimpulan. Apalagi
dengan atsar seadanya di atas ingin menarik kesimpulan Ibnu Sabaa’
sebagai pendiri Syiah. Sungguh jauh sekali
Matan kedua riwayat Muhammad bin ‘Abbad tersebut juga tidak menjadi
hujjah bagi nashibi. Perhatikan apa yang disifatkan kepada Ibnu Saudaa’
dalam riwayat tersebut yaitu ia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Tidak ada sedikitpun disini qarinah yang menunjukkan kaitan antara Ibnu
Saudaa’ dengan Syiah atau aqidah yang ada di sisi Syiah.
.
.
.
أخبرنا أبو البركات الأنماطي أنا أبو طاهر أحمد بن الحسن وأبو الفضل
أحمد بن الحسن قالا أنا عبد الملك بن محمد بن عبد الله أنا أبو علي بن
الصواف نا محمد بن عثمان بن أبي شيبة نا محمد بن العلاء نا أبو بكر بن عياش
عن مجالد عن الشعبي قال أول من كذب عبد الله بن سبأ
Telah mengabarkan kepada kami Abul Barakaat Al Anmaathiy yang
berkata telah menceritakan kepada kami Abu Thaahir Ahmad bin Hasan dan
Abu Fadhl Ahmad bin Hasan keduanya berkata telah menceritakan kepada
kami ‘Abdul Malik bin Muhammad bin ‘Abdullah yang berkata telah
menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy bin Shawwaaf yang berkata telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah yang
berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Alla’ yang
berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari
Mujalid dari Asy Sya’biy yang berkata “orang pertama yang berbuat
kedustaan adalah ‘Abdullah bin Sabaa’ [Tarikh Ibnu Asakir 29/7]
Atsar ini sanadnya dhaif. Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah adalah
perawi yang diperbincangkan kedudukannya. Shalih Al Jazarah berkata
“tsiqat”. Abdaan berkata “tidak ada masalah padanya”. Abdullah bin
‘Ahmad berkata “kadzab” Ibnu Khirasy berkata “pemalsu hadis” [As Siyaar
14/21]. Tuduhan dusta dan pemalsu hadis sebagaimana dikatakan Abdullah
bin Ahmad dan Ibnu Khirasy ternyata bersumber dari Ibnu Uqdah seorang
yang tidak bisa dijadikan sandaran perkataannya.
Tetapi sebagian ulama lain telah memperbincangkan Muhammad bin Utsman
bin Abi Syaibah. Daruquthni berkata “dhaif” [Su’alat Al Hakim no 172].
Al Khaliliy berkata “mereka para ulama mendhaifkannya” [Al Irsyad
2/576]. Baihaqi berkata “tidak kuat” [Sunan Baihaqi 6/174 no 11757]. Adz
Dzahabiy sendiri walaupun memujinya dengan sebutan imam hafizh musnad
sebagaimana dinyatakan dalam As Siyaar, di kitabnya yang lain Adz
Dzahabiy berkata “dhaif” [Tarikh Al Islam 1/25].
Abu Bakar bin ‘Ayyasy juga termasuk perawi yang diperbincangkan.
Ahmad terkadang berkata “tsiqat tetapi melakukan kesalahan” dan
terkadang berkata “sangat banyak melakukan kesalahan”, Ibnu Ma’in
menyatakan tsiqat, Utsman Ad Darimi berkata “termasuk orang yang jujur
tetapi laisa bidzaka dalam hadis”. Muhammad bin Abdullah bin Numair
mendhaifkannya, Al Ijli menyatakan ia tsiqat tetapi sering salah. Ibnu
Sa’ad juga menyatakan ia tsiqat shaduq tetapi banyak melakukan
kesalahan, Al Hakim berkata “bukan seorang yang hafizh di sisi para
ulama” Al Bazzar juga mengatakan kalau ia bukan seorang yang hafizh.
Yaqub bin Syaibah berkata “hadis-hadisnya idhthirab”. As Saji berkata
“shaduq tetapi terkadang salah”. [At Tahdzib juz 12 no 151]. Ibnu Hajar
berkata “tsiqah, ahli ibadah, berubah hafalannya di usia tua, dan
riwayat dari kitabnya shahih” [At Taqrib 2/366]. Ia dikatakan mengalami
ikhtilath di akhir umurnya dan tidak diketahui apakah Muhammad bin Al
‘Alla’ meriwayatkan darinya sebelum atau sesudah mengalami ikhtilath.
Maka hal ini menjadi illat [cacat] yang menjatuhkan derajat riwayat
tersebut.
Riwayat tersebut juga lemah karena Mujalid bin Sa’id Al Hamdaniy ia
seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. Ibnu Ma’in berkata
“tidak bisa dijadikan hujjah”. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Daruquthni
berkata “dhaif”. Yahya bin Sa’id mendhaifkannya [Mizan Al I’tidal juz 3
no 7070]. Al Ijliy menyatakan ia hasanul hadis [Ma’rifat Ats Tsiqat no
1685]. Ibnu Hajar berkata “tidak kuat” [At Taqrib 2/159]. Mujallid tidak
memiliki penguat dalam riwayat di atas maka kedudukan riwayat tersebut
dhaif.
Matan riwayat Asy Sya’biy tersebut juga mungkar karena bagaimana
mungkin dikatakan Ibnu Sabaa’ adalah orang pertama yang berbuat
kedustaan padahal sebelumnya sudah ada para pendusta yang mengaku
sebagai Nabi seperti Musailamah dan pengikutnya. Mustahil dikatakan Asy
Sya’biy tidak mengetahui perkara Musailamah.
.
.
.
حَدَّثَنِي أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاءِ الْهَمْدَانِيُّ ،
نا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ الأَسَدِيُّ ، نا هَارُونُ بْنُ صَالِحٍ
الْهَمْدَانِيُّ ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، عَنْ أَبِي
الْجُلاسِ ، قَالَ : سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ
لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبَأٍ : ” وَيْلَكَ ، مَا أَفْضَى إِلَيَّ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا كَتَمَهُ أَحَدًا مِنَ
النَّاسِ وَلَقَدْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ : إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ
ثَلاثِينَ كَذَّابًا وَإِنَّكَ لأَحَدُهُمْ؟
Telah menceritakan kepadaku Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Allaa’ Al
Hamdaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Hasan Al Asadiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Haarun bin
Shaalih Al Hamdaaniy dari Al Haarits bin ‘Abdurrahman dari Abul Julaas
yang berkata aku mendengar Aliy [radiallahu ‘anhu] berkata kepada
‘Abdullah bin Saba’ “celaka engkau, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi
wasallam] tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatu yang Beliau
sembunyikan dari manusia dan sungguh aku telah mendengar Beliau berkata
“sesungguhnya sebelum kiamat akan ada tiga puluh pendusta” dan engkau
adalah salah satu dari mereka [As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1325]
Abu Ya’la juga membawakan hadis ini dalam Musnad-nya 1/350 no 449
dengan jalan Abu Kuraib di atas. Abu Kuraib memiliki mutaba’ah yaitu Abu
Bakar bin Abi Syaibah sebagaimana yang disebutkan Ibnu Abi Ashim dalam
As Sunnah no 982 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 1/350 no 450. Nashibi
menyatakan bahwa atsar ini tsabit (kokoh) dan mengutip Al Haitsamiy yang
berkata “diriwayatkan Abu Ya’la dan para perawinya tsiqat” [Majma’ Az
Zawaid 7/333 no 12486]
Pernyataan nashibi keliru dan menunjukkan kejahilan yang nyata. Atsar ini kedudukannya dhaif jiddan.
- Muhammad bin Hasan Al Asadiy ia seorang yang diperbincangkan. Ibnu
Hajar berkata “shaduq ada kelemahan padanya” dan dikoreksi dalam Tahrir
At Taqrib bahwa ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. Ia
telah didhaifkan oleh Ibnu Ma’in, Yaqub bin Sufyan, Al Uqailiy, Ibnu
Hibban, Abu Ahmad Al Hakim dan As Sajiy. Abu Hatim berkata “syaikh”. Abu
Dawud berkata “shalih ditulis hadisnya”. Al Ijliy, Ibnu Adiy dan
Daruquthni berkata “tidak ada masalah padanya”. Ditsiqatkan Al Bazzar
dan dinukil dari Abu Walid bahwa Ibnu Numair mentsiqatkannya. [Tahrir At
Taqrib no 5816]
- Haarun bin Shalih Al Hamdaaniy adalah perawi majhul, yang
meriwayatkan darinya hanya Muhammad bin Hasan Al Asadiy [Tahrir At
Taqrib no 7233]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat
juz 9 no 16198]. Tautsiq Ibnu Hibban tidak memiliki qarinah yang
menguatkan.
- Harits bin ‘Abdurrahman disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat
bahwa ia meriwayatkan dari Abu Julaas dan meriwayatkan darinya Harun bin
Shalih [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 6 no 7232]. Tautsiq Ibnu Hibban
tidak memiliki qarinah yang menguatkan maka kedudukannya majhul.
- Abu Julaas adalah perawi yang majhul sebagaimana disebutkan Ibnu
Hajar dan disepakati dalam Tahrir At Taqrib [Tahrir At Taqrib no 8029]
.
.
.
Ibnu Hajar dalam kitab Lisan Al Mizan mengutip salah satu riwayat dari Abu Ishaq Al Fazari, Ibnu Hajar berkata
وقال أبو إسحاق الفزاري عن شعبة عن سلمة بن كهيل عن أبي الزعراء عن زيد
بن وهب أن سويد بن غفلة دخل على علي في غمارته فقال إني مررت بنفر يذكرون
أبا بكر وعمر يرون أنك تضمر لهما مثل ذلك منهم عبد الله بن سبأ وكان عبد
الله أول من أظهر ذلك فقال علي ما لي ولهذا الخبيث الأسود ثم قال معاذ الله
أن أضمر لهما إلا الحسن الجميل ثم أرسل إلى عبد الله بن سبأ فسيره إلى
المدائن وقال لا يساكنني في بلدة أبدا ثم نهض إلى المنبر حتى اجتمع الناس
فذكر القصة في ثنائه عليهما بطوله وفي آخره إلا ولا يبلغني عن أحد يفضلني
عليهما إلا جلدته حد المفتري
Abu Ishaaq Al Fazaariy berkata dari Syu’bah dari Salamah bin
Kuhail dari Abi Az Za’raa dari Zaid bin Wahb bahwa Suwaid bin Ghaffalah
masuk menemui ’Ali [radiallahu ‘anhu] di masa kepemimpinannya. Lantas
dia berkata,”Aku melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakar dan
’Umar. Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan
seperti itu kepada mereka berdua. Diantara mereka adalah ’Abdullah bin
Saba’ dan dialah orang pertama yang menampakkan hal itu”. Lantas ’Ali
berkata,”Aku berlindung kepada Allah untuk menyembunyikan sesuatu
terhadap mereka berdua kecuali kebaikan”. Kemudian beliau mengirim
utusan kepada ’Abdullah bin Saba’ dan mengusirnya ke Al-Madaain. Beliau
juga berkata,”Jangan sampai engkau tinggal satu negeri bersamaku
selamanya”. Kemudian beliau bangkit menuju mimbar sehingga manusia
berkumpul. Lantas beliau menyebutkan kisah secara panjang lebar yang
padanya terdapat pujian terhadap mereka berdua [Abu Bakar dan ’Umar],
dan akhirnya berliau berkata,”Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku
dari seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku
akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta. [Lisan
Al Mizan juz 3 no 1225]
Nashibi berkata tentang riwayat ini bahwa kedudukannya tsabit.
Pernyataan ini keliru, bahkan bisa dikatakan riwayat ini khata’ [salah].
Asal mula riwayat ini adalah apa yang disebutkan Abu Ishaaq Al Fazari
dalam kitabnya As Siyar dan Al Khatib dalam Al Kifaayah
أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ غَالِبٍ
الْخُوَارَزْمِيُّ قَالَ : ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ
بْنِ حَمْدَانَ النَّيْسَابُورِيُّ بِخُوَارَزْمَ ، قَالَ : أَمْلَى
عَلَيْنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
الْبُوشَنْجِيُّ ، قَالَ : ثنا أَبُو صَالِحٍ الْفَرَّاءُ مَحْبُوبُ بْنُ
مُوسَى ، قَالَ : أنا أَبُو إِسْحَاقَ الْفَزَارِيُّ ، قَالَ : ثنا
شُعْبَةُ ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ ، عَنْ أَبِي الزَّعْرَاءِ ، أَوْ
عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ ، أَنَّ سُوَيْدَ بْنَ غَفَلَةَ الْجُعْفِيَّ ،
دَخَلَ عَلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، فِي
إِمَارَتِهِ ، فَقَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنِّي مَرَرْتُ
بِنَفَرٍ يَذْكُرُونَ أَبَا بَكْرٍ ، وَعُمَرَ بِغَيْرِ الَّذِي هُمَا لَهُ
أَهْلٌ مِنَ الإِسْلامِ ، لأَنَّهُمْ يَرَوْنَ أَنَّكَ تُضْمِرُ لَهُمَا
عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ ، وَإِنَّهُمْ لَمْ يَجْتَرِئُوا عَلَى ذَلِكَ إِلا
وَهُمْ يَرَوْنَ أَنَّ ذَلِكَ مُوَافِقٌ لَكَ ، وَذَكَرَ حَدِيثَ خُطْبَةِ
عَلِيٍّ وَكَلامِهِ فِي أَبِي بَكْرٍ ، وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ،
وَقَوْلِهِ فِي آخِرِهِ ” أَلا : وَلَنْ يَبْلُغَنِي عَنْ أَحَدٍ
يُفَضِّلُنِي عَلَيْهِمَا إِلا جَلَدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِي
Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin
Ghaalib Al Khawarizmiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu
‘Abbas Muhammad bin Ahmad bin Hamdaan An Naisaburiy di Khawarizm yang
berkata imla’ kepada kami Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ibrahiim Al
Buusyanjiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Shalih Al
Farra Mahbuub bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu
Ishaaq Al Fazariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah
dari Salamah bin Kuhail dari Abi Az Za’raa’ atau dari Zaid bin Wahb
bahwa Suwaid bin Ghafallah Al Ju’fiy menemui Ali bin Abi Thalib
[radiallahu ‘anhu] pada masa kepemimpinannya dan berkata “wahai amirul
mukminin aku melewati sekelompok orang yang menyebut-nyebut Abu Bakar
dan Umar sesuatu dalam islam yang tidak ada pada diri mereka. Mereka
berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu
kepada mereka berdua dan bahwa mereka tidaklah menyatakan hal itu
kecuali mereka berpandangan bahwa hal itu diakui olehmu kemudian
disebutkan hadis khutbah Ali yang berbicara tentang Abu Bakar dan Umar
akhirnya berkata,”Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari
seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan
mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta [Al Kifaayah
Al Khatib 3/333 no 1185]
Riwayat dengan matan yang sama di atas juga disebutkan Abu Ishaaq Al
Fazari dalam kitabnya As Siyar hal 327 no 647. Kalau kita membandingkan
riwayat Abu Ishaaq Al Fazaariy ini dengan apa yang dinukil oleh Ibnu
Hajar maka terdapat kesalahan penukilan yang dilakukan Ibnu Hajar.
- Kesalahan pada sanad yaitu Ibnu Hajar menuliskan dari Abu Ishaq dari
Syu’bah dari Salamah dari Abu Az Za’raa’ dari Zaid bin Wahb dari
Suwaid. Sedangkan riwayat Abu Ishaq sebenarnya adalah dari Syu’bah dari
Salamah dari Abu Az Za’raa’ atau dari Zaid bin Wahb dari Suwaid.
- Kesalahan pada matan yaitu Ibnu Hajar menuliskan lafaz bahwa
diantara mereka ada Ibnu Sabaa’ dan dialah yang pertama kali menampakkan
hal itu sehingga Ali [radiallahu ‘anhu] mengusirnya ke Mada’in.
Sedangkan riwayat Abu Ishaq sebenarnya tidak ada keterangan tentang
Abdullah bin Saba’.
Maka riwayat Abu Ishaaq Al Fazaariy tidak bisa dijadikan hujjah untuk
membuktikan khayalan nashibi tentang ‘Abdullah bin Sabaa’. Ada baiknya
mereka mengais-ngais riwayat lain karena sepertinya mereka sudah
kehabisan hujjah riwayat.
Riwayat Abu Ishaq Al Fazaariy di atas mengandung lafaz syaak [ragu]
yaitu Salamah bin Kuhail berkata dari Abi Az Za’raa’ atau dari Zaid bin
Wahb. Zaid bin Wahb adalah seorang yang tsiqat dan Abu Az Za’raa’
Abdullah bin Haani’ Al Kuufiy adalah perawi yang dhaif tetapi bisa
dijadikan i’tibar. Al Ijli dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat. Tetapi
Al Bukhari berkata “tidak memiliki mutaba’ah dalam hadisnya”. Al Uqailiy
memasukkannya dalam Adh Dhu’afa. Dan tidak meriwayatkan darinya kecuali
Salamah bin Kuhail [Tahrir At Taqrib no 3677]. Adz Dzahabi
memasukkannya dalam Diwan Adh Dhu’afa no 2337.
Jika kedua orang ini adalah perawi yang tsiqat maka lafaz syaak
seperti itu tidaklah menjatuhkan kedudukan hadisnya tetapi jika salah
satu dari kedua perawi itu dhaif maka ini menjadi illat [cacat] bagi
riwayat tersebut. Apakah riwayat tersebut berasal dari perawi yang
tsiqat ataukah dari perawi yang dhaif?. Bisa saja riwayat tersebut
sebenarnya berasal dari perawi yang dhaif.
.
.
.
Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah riwayat-riwayat tentang
Abdullah bin Sabaa’ yang diriwayatkan melalui jalur selain Saif bin Umar
ternyata sanadnya juga tidak shahih. Jikapun ada yang hasan riwayatnya
maka penunjukkannya tidak jelas sebab yang tertera dalam riwayat
tersebut adalah Ibnu Saudaa’ dan tidak ada bukti shahih bahwa Ibnu
Saudaa’ yang dimaksud adalah ‘Abdullah bin Saba’. Ibnu Saudaa’ berarti
anak budak hitam. Jadi riwayat tersebut hanya menunjukkan bahwa di masa
Imam Ali terdapat anak budak hitam yang berdusta atas nama Allah SWT dan
Rasul-Nya
Sebagian orang melebih-lebihkan dan mengada-ada tanpa dalil shahih
bahwa Ibnu Saudaa’ yang dimaksud adalah ‘Abdullah bin Saba’. Kemudian
mereka dengan nafsu kejinya menambah-nambahkan lagi bahwa ‘Abdullah bin
Sabaa’ adalah pendiri Syiah menyebarkan keyakinan Imamah Ali bin Abi
Thalib, menyebarkan akidah raja’ dan bada’, mencela Abu Bakar dan Umar.
Padahal mereka tidak mampu membawakan satu dalil shahihpun yang
menguatkan hujjah mereka.
Analogi yang pas untuk dongeng ‘Abdullah bin Sabaa’ seperti kisah
berikut ada seorang yang dikenal pendusta di sebuah dusun dalam suatu
negri. Kemudian negri tersebut terjatuh dalam kekacauan karena ulah
pemimpinnya yang korup. Seiring dengan waktu terdapat orang-orang yang
punya kepentingan melindungi aib sang pemimpin sehingga menyebarkan
syubhat dengan mencatut nama si pendusta dari dusun kecil sebagai
penyebab kekacauan negri tersebut. Kemudian para ahli sejarah yang
kritis menelaah dan membuktikan bahwa sebenarnya si pendusta ini adalah
tokoh fiktif yang dijadikan tameng untuk melindungi aib sang pemimpin.
Para ahli lain yang dibayar oleh pihak yang berkepentingan berhasil
membuktikan bahwa pendusta yang dimaksud memang ada dan tinggal di dusun
tersebut jadi ia tidaklah fiktif maka kaum bayaran itu berbangga hati
berhasil membuktikan bahwa ahli sejarah tersebut keliru.
Padahal orang yang punya akal pikiran dan waras pemahamannya akan
berkata membuktikan adanya si pendusta bukan berarti membuktikan bahwa
si pendusta itu yang mengacaukan negri tersebut. Itu adalah dua hal
berbeda yang masing-masing memerlukan pembuktian. Nah begitulah,
membuktikan adanya ‘Abdullah bin Sabaa’ bukan menjadi bukti bahwa
‘Abdullah bin Sabaa’ adalah pendiri Syiah. Itu adalah dua hal berbeda
yang masing-masing membutuhkan pembuktian. Apakah para nashibi itu
mengerti? Jawabannya tidak, mereka adalah orang-orang yang lemah akalnya
hampir-hampir tidak mengerti pembicaraan dan suka mencela untuk
mengacaukan persatuan umat.
.
.
.
Nashibi yang kehabisan akal akhirnya kembali mengandalkan Saif bin
Umar At Tamimiy. Hanya saja mereka sedikit melakukan akrobat dengan
mengatakan Saif memang dhaif dalam hadis tetapi menjadi pegangan dalam
sejarah. Dan riwayat tentang Ibnu Sabaa’ termasuk sejarah bukan hadis.
Diantaranya mereka mengutip perkataan Ibnu Hajar tentang Saif “dhaif
dalam hadis dan pegangan dalam tarikh” [At Taqrib 1/408].
Pembelaan ini tidak bernilai bahkan bisa dibilang inkonsisten. Kalau
memang para ulama menjadikan Saif bin Umar sebagai pegangan dalam tarikh
maka mengapa banyak para ulama yang melemahkan riwayat Saif bin Umar
tentang tarikh ketika Saif menceritakan aib para sahabat Nabi misalnya
Utsman bin ‘Affan. Jika untuk menuduh Syiah, Saif bin Umar dijadikan
pegangan tetapi jika Saif menyatakan aib sahabat ia dicela
habis-habisan. Bukankah ini gaya berhujjah model hipokrit aka munafik.
Saif bin Umar adalah seorang yang dhaif matruk bahkan dikatakan
pemalsu hadis. Hal ini menunjukkan bahwa ia seorang pendusta yang tidak
segan-segan untuk memalsukan hadis atas nama Rasulullah [shallallahu
‘alaihi wasallam]. Kalau untuk hadis saja ia berani berdusta maka
apalagi tarikh yang kedudukannya lebih rendah dari hadis.
Ibnu Hajar sendiri yang dijadikan hujjah oleh nashibi ternyata di tempat lain menolak riwayat Saif bin Umar. Ia berkata
“kemudian dikeluarkan dari jalan Saif bin Umar dalam kitab Al Futhuh kisah panjang yang tidak shahih sanadnya”
bahkan Ibnu Hajar mengatakan kabar-kabar tentang Abdullah bin Saba’
dalam kitab tarikh tidak satupun bernilai riwayat [Lisan Al Mizan juz 3
no 1225].
Maka sangat terlihat betapa rendah akal para nashibi dalam berhujjah.
Mereka tidak bisa menggunakan akal mereka dengan benar. Hawa nafsu
telah menuntun mereka dalam kontradiksi yang nyata. Demi melancarkan
tuduhan terhadap Syiah mereka rela menghalalkan apa saja bahkan rela
merendahkan akal mereka sendiri.
.
.
Bukankah para ulama Sunniy telah banyak mengutip biografi ‘Abdullah
bin Saba’ dan menyatakan bahwa ia pendiri Syiah?. Memang tetapi perlu
diingat bahwa para ulama ketika menuliskan biografi terkadang
mencampuradukkan riwayat yang shahih dan dhaif atau bahkan ada yang
hanya bersandar pada riwayat dhaif. Jadi apa yang mereka tulis bukanlah
hujjah shahih jika ternyata hanya bersandar pada riwayat dhaif atau
tidak didukung oleh riwayat yang shahih.
Akibatnya jika kita meneliti dengan baik banyak perkataan para ulama
yang bertentangan satu sama lain tentang ‘Abdullah bin Sabaa’. Misalnya
ada yang mengatakan bahwa ia dibakar Imam Ali tetapi ada yang menyatakan
ia diusir Imam Ali ke Mada’in. Ada yang mengatakan bahwa ia disebut
juga Ibn Saudaa’ tetapi ada yang menyatakan ia bukan Ibnu Saudaa’ atau
menyatakan ia sebenarnya adalah Abdullah bin Wahb Ar Rasibiy pemimpin
khawarij. Jadi tidak ada gunanya kalau berhujjah dengan model “katanya”
buktikan hujjah dengan riwayat shahih, itulah kaidah ilmiah.
.
.
.
Tinjauan Riwayat Abdullah bin Sabaa’ Dalam Kitab Syiah
Nashibi dalam menegakkan hujjah tuduhan dan celaan mereka bahwa
‘Abdullah bin Sabaa’ pendiri Syiah, mereka juga mengutip berbagai
riwayat Syiah dan nukilan Ulama syiah yang mengakui keberadaan ‘Abdullah
bin Sabaa’. Secara pribadi kami tidak memiliki kompetensi untuk
meneliti kitab-kitab Syiah jadi pembahasan bagian ini merujuk pada
tulisan-tulisan sebagian pengikut Syiah.
Berulang kali kami katakan bahwa kami bukan penganut Syiah dan
tulisan ini hanya ingin menunjukkan pada orang awam bahwa syubhat salafy
nashibi yang mencela Syiah adalah tidak berdasar dan dusta. Kami
pribadi mengakui Syiah sebagai salah satu mazhab dalam Islam. Berbagai
perbedaan antara Sunni dan Syiah tidak membuat salah satu layak untuk
mengkafirkan yang lainnya. Kami mengajak kepada para pembaca untuk
bersikap adil tanpa dipengaruhi mazhab manapun, kami tidak pula mengajak
para pembaca agar menjadi penganut Syiah atau penganut Sunni. Apapun
mazhab Islam yang dianut, hendaknya kita menjaga persatuan, saling
menghormati dan menjaga kerukunan sesama muslim.
Telah kami bahas sepintas sebelumnya bahwa di sisi Syiah terkait dengan ‘Abdullah bin Sabaa’ terbagi menjadi dua pendapat
- Pendapat yang menganggap ‘Abdullah bin Sabaa’ sebagai tokoh fiktif.
Pendapat ini dipopulerkan oleh ulama syiah kontemporer dan diikuti oleh
sebagian yang lain.
- Pendapat yang mengakui keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’ dan
menyatakan bahwa ia seorang yang ghuluw ekstrim bahkan jatuh dalam
kekafiran. Hal ini diakui oleh ulama syiah terdahulu dalam kitab-kitab
mereka.
Walaupun begitu kedua pendapat ini sepakat menolak tuduhan nashibi
‘Abdullah bin Sabaa’ sebagai pendiri Syiah. Ada yang menolak dengan
memfiktifkan tokoh tersebut dan ada yang menolak dengan membawakan
riwayat shahih bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ seorang yang dilaknat oleh
Imam Ahlul Bait karena mendakwakan ketuhanan Ali [radiallahu ‘anhu]
عن أبان بن عثمان قال سمعت أبا عبد الله يقول لعن الله عبد الله بن سبإ
إنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين و كان و الله أمير المؤمنين عبدا لله
طائعا الويل لمن كذب علينا و إن قوما يقولون فينا ما لا نقوله في أنفسنا
نبرأ إلى الله منهم نبرأ إلى الله منهم
Dari ‘Aban bin Utsman yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdillah
mengatakan Allah melaknat ‘Abdullah bin Saba’. Sesungguhnya ia
mendakwakan Rububiyyah [ketuhanan] kepada Amiirul Mukminiin [Imam Ali],
sedangkan Amiirul Mukminiin demi Allah hanyalah seorang hamba yang
mentaati Allah. Neraka Wail adalah balasan bagi siapa saja yang berdusta
atas nama kami. Sesungguhnya telah ada satu kaum berkata-kata tentang
kami sesuatu yang kami tidak mengatakannya. Kami berlepas diri kepada
Allah atas apa yang mereka katakan itu, kami berlepas diri kepada Allah
atas apa yang mereka katakan itu [Rijal Al Kasysyiy hal 107 no 172]
Riwayat-riwayat semisal inilah yang dikutip oleh para nashibi dan
disisi kelimuan Syiah riwayat Al Kasysyiy di atas shahih. Tetapi
shahih-nya riwayat di atas tidak menjadi bukti akan kebenaran tuduhan
nashibi bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ pendiri Syiah. Riwayat yang shahih di
sisi Syiah menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah seorang kafir
yang dilaknat yang mendakwakan ketuhanan Ali [radiallahu ‘anhu]. Tentu
saja di sisi Syiah tidak ada sedikitpun ajaran yang menuhankan Imam Ali.
Syiah berlepas diri dari ‘Abdullah bin Saba’ dan tidak jarang ulama
syiah mensifatkan ‘Abdullah bin Sabaa’ dengan kekafiran dan ghuluw
ekstrim.
Dengan berpikir secara rasional sungguh sangat tidak mungkin jika
‘Abdullah bin Sabaa’ dikatakan pendiri Syiah karena di dalam kitab Syiah
sendiri ia dikenal sebagai seorang ghuluw ekstrim bahkan kafir. Dan
tidak ada satupun riwayat shahih dalam kitab Syiah bahwa ada salah satu
ajaran Syiah yang bermula atau diambil dari ‘Abdullah bin Sabaa’. Para
pengikut Syiah mengambil ajaran mereka dari para Imam Ahlul Bait dan
Imam Ahlul Bait sendiri ternyata melaknat ‘Abdullah bin Sabaa’. Anehnya
para nashibi tidak mampu berpikir secara rasional, mereka mengutip
sesuka hati melompat-lompat dalam menarik kesimpulan, menegakkan waham
di atas waham.
Seperti halnya para ulama sunni, ulama syiah juga mengalami kesimpangsiuran dalam kabar yang terkait Abdullah bin Sabaa’.
- At Thuusiy berkata bahwa Abdullah bin Sabaa’ kufur dan ghuluw [Rijal Ath Thuusiy hal 80]
- Al Hilliy berkata Abdullah bin Sabaa’ ghuluw terlaknat, ia
menganggap Aliy Tuhan dan dirinya adalah Nabi [Rijal Al Hilliy hal 237]
- Al Mamqaniy berkata “Abdullah bin Sabaa’ dikembalikan padanya
kekafiran dan ghuluw yang nyata” ia juga berkata “Abdullah bin Sabaa’
ghuluw terlaknat, Imam Ali membakarnya dengan api, ia mengatakan Ali
adalah Tuhan dan ia sendiri adalah Nabi [Tanqiihul Maqaal Fii Ilm Rijaal
2/183-184]. Kami menukil ini dari situs nashibi dan sebagian pengikut
syiah berkata bahwa ini bukan perkataan Al Mamqaniy tetapi perkataan Ath
Thuusiy dan Al Hilliy sebelumnya.
- Sayyid Ni’matullah Al Jaza’iriy berkata bahwa Abdullah bin Sabaa’
mengatakan Ali adalah Tuhan sehingga Imam Ali mengasingkannya di Mada’in
[Anwaar An Nu’maniyah 2/234]
- An Naubakhtiy berkata bahwa dihikayatkan oleh sekelompok ahli ilmu
bahwa Abdullah bin Sabaa’ adalah yahudi yang masuk islam dan menunjukkan
loyalitas pada Imam Ali, dan ia yang pertama kali menyatakan Imamah Ali
[radiallahu ‘anhu] [Firaq Asy Syiiah hal 32-44]
- Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy menyatakan bahwa kelompok Saba’iyyah
adalah pengikut ‘Abdullah bin Sabaa’ ia adalah Abdullah bin Wahb Ar
Raasibiy Al Hamdaniy. Dia adalah orang yang pertama kali menampakkan
celaan pada Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat lainnya serta berlepas
diri dari mereka [Al Maqaalaat Wal Firaq hal 20]. Dikenal dalam sejarah
bahwa Abdullah bin Wahb Ar Raasibiy adalah pemimpin kaum khawarij dan ia
disebutkan terbunuh di Nahrawan
Nampak kabar yang simpang siur jika kita memperhatikan perkataan para
ulama syiah tersebut. Ada yang mengatakan ia dibakar dengan api, ada
yang mengatakan ia diasingkan ke Mada’in. Ada yang mengatakan ia yahudi
yang masuk islam, ada yang mengatakan ia Abdullah bin Wahb pimpinan kaum
khawarij. Simpang siur ini terjadi karena ulama syiah kebanyakan hanya
menukil dan mencampuradukkan antara riwayat yang shahih dengan riwayat
dhaif. [sama seperti ulama Sunniy]
Satu-satunya keterangan yang disampaikan dari riwayat Syiah yang
shahih perihal Abdullah bin Sabaa’ adalah bahwa ia ghuluw terlaknat
meyakini ketuhanan Imam Ali. Tidak benar jika dikatakan bahwa ‘Abdullah
bin Sabaa’ yang pertama kali menyatakan imamah Ali [radiallahu ‘anhu]
karena tidak ternukil dalam riwayat yang shahih di sisi Syiah.
Perkataan atau nukilan dari Naubakhtiy bahwa sekelompok ahli ilmu
menyatakan Abdullah bin Sabaa’ yang pertama menyatakan Imamah Ali
[radiallahu ‘anhu] adalah tidak berdasar dan tidak ada riwayat shahih di
sisi Syiah yang mengatakannya bahkan tidak dikenal siapa saja ahli ilmu
yang menyatakan demikian. Justru banyak ahli ilmu [di sisi Syiah] yang
menyatakan ‘Abdullah bin Sabaa’ ghuluw kafir terlaknat.
.
.
.
Apa yang dapat disimpulkan dari pembahasan sejauh ini tentang
‘Abdullah bin Sabaa’?. Kita akan merincikan hal ini dalam kedua bagian
yaitu keberadaan ‘Abdullah bin Sabaa’ dan Peran ‘Abdullah bin Sabaa’
Keberadaan Abdullah bin Sabaa’
- Tidak ada riwayat shahih di sisi Sunniy yang menyatakan keberadaan
‘Abdullah bin Sabaa’. Riwayat yang dijadikan hujjah nashibi telah
dikemukakan illat [cacatnya]. Ada riwayat yang hasan [jika selamat dari
illat] bahwa ada seorang yang dicela Imam Ali karena berdusta atas nama
Allah SWT yaitu Ibnu Saudaa’ dan tidak ada bukti shahih bahwa ia adalah
‘Abdullah bin Sabaa’
- Ada riwayat shahih di sisi Syiah yang menyatakan keberadaan
‘Abdullah bin Sabaa’ bahwa ia ghuluw jatuh dalam kekafiran dan
menyebarkan paham ketuhanan Ali [radiallahu ‘anhu]
Peran Abdullah bin Sabaa’
- Tidak ada riwayat shahih di sisi Sunniy dan di sisi Syiah yang
menyatakan bahwa Abdullah bin Sabaa’ adalah orang yang pertama kali
mengenalkan konsep Imamah Ali [radiallahu ‘anhu], celaan terhadap
sahabat Abu Bakar dan Umar, konsep rajaa’ dan bada’, dan perannya dalam
pembunuhan khalifah Utsman.
- Ternukil riwayat-riwayat dhaif baik di sisi Sunni dan di sisi Syiah
yang menyatakan peran ‘Abdullah bin Sabaa’ misalnya riwayat Saif bin
Umar bahwa Abdullah bin Sabaa’ mengenalkan konsep Imamah Ali dan
perannya dalam pembunuhan khalifah Utsman. Begitu juga ternukil tanpa
sanad riwayat syiah seperti yang dinukil An Naubakhtiy dan nukilan ulama
yang diklaim menyatakan Abdullah bin Sabaa’ yang pertama mengenalkan
konsep Imamah Aliy dan mencela Abu Bakar dan Umar. Nukilan ini tidak
valid alias tidak terbukti siapa ahli ilmu di sisi Syiah yang
menyatakannya dan riwayat tanpa sanad jelas dhaif kedudukannya.
- Sebagian ulama Sunni dan ada juga ulama Syiah yang menukil dalam
kitab mereka peran ‘Abdullah bin Sabaa’ misalnya anggapan bahwa ia
yahudi, mencela Abu Bakar dan Umar, terlibat pembunuhan Utsman, pertama
kali mengenalkan Imamah Ali dan sebagainya. Nukilan mereka tidak bisa
dijadikan hujjah karena tidak berlandaskan pada riwayat shahih atau
mencampuradukkan antara yang shahih dan dhaif. Dalam perkara ini yang
menjadi hujjah adalah bukti riwayat shahih bukan nukilan ulama yang
terkadang berasal dari riwayat dhaif.
Penelitian yang baik dan ilmiah tentang Abdullah bin Sabaa’ akan menghasilkan kesimpulan bahwa
Nashibi telah berdusta atas tuduhan Abdullah bin Sabaa’ pendiri Syiah. Salam Damai