Jumat, 11 Januari 2013

Syahâdah Hadhrat Fatimah Sa dapat dijumpai pada literatur-literatur Ahlusunnah

Fakta sejarah ini tetap hidup dan terjaga dalam kitab-kitab sejarah dan hadis. Para pembesar Ahlusunnah seperti Ibnu Abi Syaibah, Baladzuri, Ibnu Qutaibah dan sebagainya mengakui fakta ini. Untuk mengetahui lebih jauh beberapa referensi terkait dengan penyerangan rumah Hadhrat Zahra Sa demikian juga beberapa referensi berkenaan dengan syahâdah Hadhrat Fatimah Zahra Sa kami persilahkan Anda untuk melihat jawaban detil dari site ini.


Penyerangan rumah dan syahâdah Fatimah Zahra Sa

Terkait dengan hal ini kami akan mengutip beberapa matan dari kitab-kitab Ahlusunnah sehingga menjadi jelas bahwa masalah penyerangan kediaman Hadhrat Fatimah Zahra Sa merupakan sebuah peristiwa sejarah faktual dan niscaya serta bukan sebuah mitos dan legenda!! Meski pada masa para khalifah terjadi sensor besar-besaran terhadap penulisan keutamaan dan derajat (para maksum); akan tetapi kaidah menyatakan bahwa “hakikat (kebenaran) adalah penjaga sesuatu.” Hakikat sejarah ini tetap hidup dan terjaga dalam kitab-kitab sejarah dan hadis. Di sini kami akan mengutip beberapa referensi dengan memperhatikan urutan masa semenjak abad-abad pertama hingga masa kiwari.



1. Ibnu Abi Syaibah dan kitab “Al-Musannif”
Abu Bakar bin Abi Syaibah (159-235 H) pengarang kitab al-Mushannif dengan sanad sahih menukil demikian:
“Tatkala orang-orang memberikan baiat kepada Abu Bakar, Ali dan Zubair berada di rumah Fatimah berbincang-bincang dan melakukan musyawarah. Hal ini terdengar oleh Umar bin Khattab. Ia pergi ke rumah Fatimah dan berkata, “Wahai putri Rasulullah, ayahmu merupakan orang yang paling terkasih bagi kami dan setelah Rasulullah adalah engkau. Namun demi Allah! Kecintaan ini tidak akan menjadi penghalang.  Apabila orang-orang berkumpul di rumahmu maka Aku akan perintahkan supaya rumahmu dibakar. Umar bin Khattab menyampaikan ucapan ini dan keluar. Tatkala Ali As dan Zubair kembali ke rumah, putri Rasulullah Saw menyampaikan hal ini kepada Ali As dan Zubair: Umar datang kepadaku dan bersumpah apabila kalian kembali berkumpul maka ia akan membakar rumah ini. Demi Allah! Apa yang ia sumpahkan akan dilakukannya![1]



2. Baladzuri dan kitab “Ansab al-Asyrâf”
Ahmad bin Yahya Jabir Baghdadi Baladzuri (wafat 270) penulis masyhur dan sejarawan terkemuka, mengutip peristiwa sejarah ini dalam kitab “Ansab al-Asyrâf” sebagaimaan yang telah disebutkan.
Abu Bakar mencari Ali As untuk mengambil baiat darinya, namun Ali tidak memberikan baiat kepadanya. Kemudian Umar bergerak disertai dengan alat untuk membakar dan kemudian bertemu dengan Fatima di depan rumah. Fatimah berkata, “Wahai putra Khattab! Saya melihat kau ingin membakar rumahku? 


3. Ibnu Qutaibah dan kitab “Al-Imâmah wa al-Siyâsah”
Sejarawan kawakan Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Dainawari (216-276) yang merupakan salah seorang tokoh dalam sastra dan penulis kawakan dalam bidang sejarah Islam, penulis kitab “Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits” dan “Adab al-Kitab” dan sebagainya. Dalam kitab “Al-Imamah wa al-Siyasah” ia menulis sebagai berikut:
“Abu Bakar mencari orang-orang yang menghindar untuk memberikan baiat kepadanya dan berkumpul di rumah Ali bin Abi Thalib. Kemudian ia mengutus Umar untuk mendatangi mereka. Ia datang ke rumah Ali As dan tatkala ia berteriak untuk meminta mereka keluar namun orang-orang dalam rumah tidak mau keluar. Melihat hal ini Umar meminta supaya kayu bakar dikumpulkan dan berkata, “Demi Allah yang jiwa Umar di tangan-Nya! Apakah kalian akan keluar atau aku akan membakar rumah (ini).” Seseorang berkata kepada Umar, “Wahai Aba Hafs (julukan Umar) dalam rumah ini ada Fatimah, putri Rasulullah.” Umar menjawab: “Sekalipun.”!![3]
Ibnu Qutaibah sebagai kelanjutan kisah ini, menulis lebih mengerikan, “Umar disertai sekelompok orang mendatangi rumah Fatimah. Ia mengetuk rumah. Tatkala Fatimah mendengar suara mereka, berteriak keras: “Duhai Rasulullah! Selepasmu alangkah besarnya musibah yang ditimpakan putra Khattab dan putra Abi Quhafah kepada kami.” Tatkala orang-orang yang menyertai Umar mendengar suara dan jerit tangis Fatimah, maka mereka memutuskan untuk kembali namun Umar tinggal disertai sekelompok orang dan menyeret Ali keluar rumah dan membawanya ke hadapan Abu Bakar dan berkata kepadanya, “Berbaiatlah.” Ali berkata, “Apabila Aku tidak memberikan baiat lantas apa yang akan terjadi?” Orang-orang berkata, “Demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, kami akan memenggal kepalamu.”[4]
Tentu saja penggalan sejarah ini sangat berat dan pahit bagi mereka yang mencintai syaikhain (dua orang syaikh, Abu Bakar dan Umar). Karena itu, mereka meragukan kitab ini sebagai karya Ibnu Qutaibah. Padahal Ibnu Abil Hadid, guru sejarah ternama, memandang bahwa kitab ini merupakan karya Ibnu Qutaibah dan senantiasa menukil hal-hal di atas. Namun amat disayangkan kitab ini telah mengalami distorsi dan sebagian hal telah dihapus tatkala dicetak sementara hal yang sama disebutkan dalam Syarh Nahj al-Balâghah karya Ibnu Abil Hadid.
Zarkili menegaskan bahwa kitab “Al-Imâmah wa al-Siyâsah” ini merupakan karya Ibnu Qutaibah dan mengimbuhkan bahwa sebagian memiliki pendapat terkait dengan masalah ini. Artinya keraguan dan sangsi disandarkan kepada orang lain bukan kepada mereka, sebagaimana Ilyas Sarkis[5] memandang bahwa kitab ini merupakan salah satu karya Ibnu Qutaibah.


4. Thabari dan kitab “Târikh”
Muhammad bin Jarir Thabari (W 310 H) dalam Târikh-nya peristiwa penyerangan ke rumah wahyu menjelaskan demikian:
Umar bin Khattab mendatangi rumah Ali bin Abi Thalib sementara sekelompok orang-orang Muhajir berkumpul di tempat itu. Umar berkata kepada mereka: “Demi Allah! Saya akan membakar rumah ini kecuali kalian keluar untuk memberikan baiat.” Zubair keluar dari rumah sembari membawa pedang terhunus, tiba-tiba kakinya terjungkal dan pedangnya terjatuh. Dalam kondisi ini, orang lain menyerangnya dan mengambil pedang darinya.[6]
Penggalan sejarah ini merupakan sebuah indikator bahwa pengambilan baiat dilakukan dengan intimidasi dan ancaman. Seberapa nilai baiat semacam ini? Kami persilahkan Anda untuk menjawabnya sendiri.


5. Ibnu Abdurabih dan kitab “Al-‘Aqd al-Farid”
Syihabuddin Ahmad yang lebih dikenal dengan Ibnu Abdurabih Andalusi (463 H) penulis kitab al-Aqd al-Farid dalam kitabnya menulis sebuah pembahasan rinci terkait dengan sejarah Saqifah dengan judul “Orang-orang yang menentang baiat kepada Abu Bakar.” Berikut tulisannya, “Ali, Abbas dan Zubair duduk di rumah Fatimah dimana Abu Bakar mengutus Umar bin Khattab untuk mengeluarkan mereka dari rumah Fatimah. Ia berkata kepadanya, “Apabila mereka tidak keluar, maka berperanglah dengan mereka! Dan ketika itu, Umar bin Khattab bergerak menuju ke rumah Fatimah dengan membawa api untuk membakar rumah tersebut. Dalam kondisi seperti ini, ia berjumpa dengan Fatimah. Putri Rasulullah Saw berkata, “Wahai putra Khattab! Kau datang untuk membakar (rumah) kami. Ia menjawab: “Iya. Kecuali kalian memasuki apa yang telah dimasuki umat![7]
Kiranya kami cukupkan sampai di sini penggalan kisah tentang adanya keinginan untuk menyerang rumah Fatimah. Sekarang mari kita mengulas pembahasan kedua kita yang menunjukkan alasan adanya niat untuk menyerang ini.


Apakah penyerangan itu benar-benar terjadi?
Di sini ucapan-ucapan kelompok yang hanya menyinggung niat buruk khalifah dan para pendukungnya berakhir sampai di sini saja. Sebuah kelompok yang tidak ingin atau tidak mampu menyuguhkan laporan tragedi yang terjadi dengan jelas, sementara sebagian kelompok menyinggung inti tragedi yaitu penyerangan terhadap rumah dan sebagainya, sehingga tersingkap kedok yang sebenarnya meski pada tingkatan tertentu. Di sini kami akan menyebutkan beberapa referensi terkait dengan penyerangan dan penodaan kehormatan (pada bagian ini juga dalam mengutip beberapa literatur dan referensi ghalibnya dengan memperhatikan urutan masa penulis atau sejarawan):

      Abu Ubaid dan kitab “Al-Amwâl”
Abu Ubaid Qasim bin Salam (W 224 H) dalam kitabnya “Al-Amwâl” yang menjadi sandaran para juris Islam menukil: “Abdurrahman bin Auf berkata, “Aku datang ke rumah Abu Bakar untuk membesuknya yang tengah sakit. Setelah berbicara panjang-lebar, ia berkata: “Saya berharap kiranya saya tidak melakukan tiga perbuatan yang telah saya lakukan. Demikian juga saya berharap saya bertanya tiga hal kepada Rasulullah Saw. Adapun tiga hal yang telah saya lakukan dan saya berharap kiranya saya tidak melakukannya adalah: “Kiranya saya tidak menodai kehormatan rumah Fatimah dan membiarkanya begitu saja meski pintunya tertutup untuk (siap-siap) perang.”[8]
Abu Ubaid tatkala sampai pada redaksi ini, tatkala sampai pada redaksi ini, alih-alih menulis “Lam aksyif baita Fatima wa taraktuhu…” Ia malah menulis, “kadza..kadza..” dan menambahkan bahwa saya tidak ingin menyebutkannya!
Namun kapan saja Abu Ubaid berdasarkan fanatisme mazhab atau alasan lainnya menolak untuk menukil kebenaran dan hakikat ini; namun para peneliti kitab al-Amwâl menulis pada catatan kaki: Redaksi kalimatnya telah dihapus dan disebutkan pada kitab “Mizân al-I’tidâl” (sebagaimana yang telah dijelaskan). Di samping itu, Thabarani dalam “Mu’jam” dan Ibnu Abdurrabih dalam “Aqd al-Farid” dan lainnya menyebutkan redaksi kalimat yang telah dihapus itu. (Perhatikan baik-baik)

 Thabarani dan kitab “Mu’jam al-Kabir”
Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad Thabarani (260-360 H) dimana Dzahabi bercerita tentangnya dalam Mizân al-I’tidâl: Ia adalah seorang yang dapat dipercaya.[9] Dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir yang berulang kali telah dicetak, terkait dengan Abu Bakar, khutbah-khutbah dan wafatnya, Thabarani menyebutkan: “Abu Bakar sebelum wafatnya ia berharap dapat melakukan beberapa hal. Kiranya saya tidak melakukan tiga hal. Kiranya saya melakukan tiga hal. Kiranya saya bertanya tiga hal kepada Rasulullah. Ihwal tiga perkara yang dilakukan dan berharap kiranya tidak dilakukannya, Abu Bakar menuturkan, “Saya berharap saya tidak melakukan penodaan atas kehormatan rumah Fatimah dan membiarkannya begitu saja![10] Redaksi-redaksi ini dengan baik menunjukkan bahwa ancaman Umar itu terlaksana.

 Ibnu Abdurrabih dan “Aqd al-Farid”
Ibnu Abdurrabih Andalusi (W 463 H) penulis kitab “Aqd al-Farid” dalam kitabnya menukil dari Abdurrahman bin Auf: ““Aku datang ke rumah Abu Bakar untuk membesuknya yang tengah sakit. Setelah berbicara panjang-lebar, ia berkata: “Saya berharap kiranya saya tidak melakukan tiga perbuatan yang telah saya lakukan. Salah satu dari tiga hal tersebut adalah. Kiranya saya tidak menodai kehormatan rumah Fatimah dan membiarkanya begitu saja meski pintunya tertutup untuk (siap-siap) perang.”[11] Dan juga nama-nama dan ucapan-ucapan orang-orang yang menukil ucapan khalifah ini akan disebutkan bagian mendatang.

 Nazzham dan “Al-Wâfi bi al-Wafâyât”
Ibrahim bin Sayyar Nazzham Muktalizi (160-231) yang lantaran keindahan tulisannya dalam puisi dan prosa sehingga ia dikenal sebagai Nazzham. Dalam beberapa kitab menukil tragedi pasca hadirnya beberapa orang di rumah Fatimah As. Ia berkata, “Umar, pada hari pengambilan baiat untuk Abu Bakar, memukul perut Fatimah dan ia keguguran seorang putra yang diberi nama Muhsin yang ada dalam rahimnya.”[12] (Perhatikan baik-baik)

 Mubarrad dan kitab “Kâmil”
Muhammad bin Yazid bin Abdulakbar Baghdadi (210-285), seorang sastrawan, penulis terkenal dan pemilik karya-karya terkemuka, dalam kitab “Al-Kâmil”-nya, mengutip kisah harapan-harapan khalifah dari Abdurrahman bin Auf. Ia menyebutkan, “Saya berharap kiranya saya tidak menyerang rumah Fatimah dan membiarkannya begitu saja pintunya (meski) tertutup untuk (siap-siap) perang.”[13]

 Mas’udi dan “Murûj al-Dzahab”
Mas’udi (W 325 H) dalam Murûj al-Dzahab menulis: “Tatkala Abu Bakar menjelang wafatnya berkata demikian, “Tiga hal yang saya lakukan dan berharap kiranya saya tidak melakukannya. Salah satunya adalah: Saya berharap kiranya saya tidak menodai kehormatan rumah Fatimah. Hal ini banyak (kali) ia sebutkan.”[14]
Mas’udi meski ia memiliki kecendrungan yang baik kepada Ahlulbait namun sayang ia menghindar untuk mengungkap ucapan khalifah dan menyampaikannya dengan bahasa kiasan. Akan tetapi Tuhan mengetahui dan hamba-hamba Tuhan juga secara global mengetahui hal ini!

 Ibnu Abi Daram dalam Mizân al-I’tidâl
Ahmad bin Muhammad yang dikenal sebagai “Ibnu Abi Daram” ahli hadis Kufa (W 357 H), adalah seseorang yang dikatakan oleh Muhammad bin Ahmad bin Himad Kufah: “Ia adalah orang yang menghabiskan seluruh hidupnya di jalan lurus.”
Dengan memperhatikan martabat ini, ia menukil bahwa di hadapannya berita ini dibacakan, “Umar menendang Fatimah dan ia keguguran seorang putra bernama Muhsin yang ada dalam rahimnya![15] (Perhatikan baik-baik)

  Abdulfatah Abdulmaqshud dan kitab “Al-Imâm Ali”
 
Ia menyebutkan dua hal terkait dengan penyerangan ke rumah wahyu dan kita hanya menukil satu darinya: “Demi (Dzat) yang jiwa Umar berada di tangan-Nya. Apakah kalian keluar atau aku akan membakar rumah ini (berikut penghuninya). Sebagian orang yang takut (kepada Allah) dan menjaga kedudukan Rasulullah Saw dari akibat perbuatan ini, mereka berkata: “Aba Hafs, Fatimah dalam rumah ini.” Tanpa takut, Umar berteriak: “Sekalipun!! Ia mendekat, mengetuk pintu, kemudian menggedor pintu dengan tangan dan kaki untuk masuk ke dalam rumah secara paksa. Ali As muncul.. pekik jeritan suara Zahra kedengaran di dekat tempat masuk pintu rumah… suara ini adalah suara meminta pertolongan..”[16]
Kami ingin mengakhiri pembahasan ini dengan satu hadis lainnya dari “Maqatil Ibnu ‘Athiyyah” dalam kitab al-Imâmah wa al-Siyâsah (Meski masih banyak yang belum diungkap di sini!)
Ia menulis dalam kitab ini sebagai berikut:
“Tatkala Abu Bakar mengambil baiat dari orang-orang dengan ancaman, pedang dan paksaan, Umar, mengirim Qunfudz dan sekelompok orang ke rumah Ali dan Fatimah As dan Umar mengumpulkan kayu bakar dan membakar pintu rumah…”[17]
Untuk diketahui bahwa di bawah riwayat ini terdapat beberapa ungkapan yang tidak dapat dituliskan di sini.


Kesimpulan
Apakah dengan seluruh referensi dan literatur jelas yang umumnya dari literatur-literatur Ahlusunnah mereka masih berkata-kata bahwa syahâdah Hadhrat Fatimah itu sebagai mitos dan legenda..” Dimana sikap fair Anda? Pasti setiap orang yang membaca pembahasan pendek ini dengan bersandar pada beberapa referensi jelas memahami prahara yang terjadi pasca wafatnya Rasulullah Saw. Untuk sampai pada kekuasaan dan khilafah apa yang telah mereka lakukan. Hal ini merupakan penuntasan hujjah Ilahi (itmâm al-hujjah) bagi seluruh pemikir bebas yang jauh dari sikap fanatik.   Lantaran kami tidak menulis sesuatu dari kami sendiri, apa pun yang kami tulis semuanya dari literatur-literatur yang mereka terima sendiri.[18] [IQuest]


[1]. Ibnu Abi Saibah, al-Musannif, 8/572, Kitab al-Maghazi:
« انّه حین بویع لأبی بکر بعد رسول اللّه(صلى الله علیه وآله) کان علی و الزبیر یدخلان على فاطمة بنت رسول اللّه، فیشاورونها و یرتجعون فی أمرهم. فلما بلغ ذلک عمر بن الخطاب خرج حتى دخل على فاطمة، فقال: یا بنت رسول اللّه(صلى الله علیه وآله) و اللّه ما أحد أحبَّ إلینا من أبیک و ما من أحد أحب إلینا بعد أبیک منک، و أیم اللّه ما ذاک بمانعی إن اجتمع هؤلاء النفر عندک أن امرتهم أن یحرق علیهم البیت. قال: فلما خرج عمر جاؤوها، فقالت: تعلمون انّ عمر قد جاءَنى، و قد حلف باللّه لئن عدتم لیُحرقنّ علیکم البیت، و أیم اللّه لَیمضین لما حلف علیه.»
[2]. Ansab al-Asyrâf, 1/582, Dar Ma’arif, Kairo:
«انّ أبابکر أرسل إلى علىّ یرید البیعة فلم یبایع، فجاء عمر و معه فتیلة! فتلقته فاطمة على الباب. فقالت فاطمة: یابن الخطاب، أتراک محرقاً علىّ بابى؟ قال: نعم، و ذلک أقوى فیما جاء به أبوک...»
[3]. Al-Imâmah wa al-Siyâsah, hal. 12, Maktab Tijariyah Kubra, Mesir:
« انّ أبابکر رضی اللّه عنه تفقد قوماً تخلّقوا عن بیعته عند علی کرم اللّه وجهه فبعث إلیهم عمر فجاء فناداهم و هم فی دار على، فأبوا أن یخرجوا فدعا بالحطب و قال: والّذی نفس عمر بیده لتخرجن أو لاحرقنها على من فیها، فقیل له: یا أبا حفص انّ فیها فاطمة فقال، و إن!! »
[4]. Al-Imâmah wa al-Siyâsah, hal. 13, Maktab Tijariyah Kubra, Mesir:
« ثمّ قام عمر فمشى معه جماعة حتى أتوا فاطمة فدقّوا الباب فلمّا سمعت أصواتهم نادت بأعلى صوتها یا أبتاه رسول اللّه ماذا لقینا بعدک من ابن الخطاب، و ابن أبی قحافة فلما سمع القوم صوتها و بکائها انصرفوا. و بقی عمر و معه قوم فأخرجوا علیاً فمضوا به إلى أبی بکر فقالوا له بایع، فقال: إن أنا لم أفعل فمه؟ فقالوا: إذاً و اللّه الّذى لا إله إلاّ هو نضرب عنقک...!»
[5]. Mu’jam al-Mathbu’ât al-Arabiyah, 1/212.
[6]. Târikh Thabari, 2/443:
« أتى عمر بن الخطاب منزل علی و فیه طلحة و الزبیر و رجال من المهاجرین، فقال و اللّه لاحرقن علیکم أو لتخرجنّ إلى البیعة، فخرج علیه الزّبیر مصلتاً بالسیف فعثر فسقط السیف من یده، فوثبوا علیه فأخذوه.»
[7]. Aqd al-Farid, 4/93, Maktabatu Hilal:
.« فأمّا علی و العباس و الزبیر فقعدوا فی بیت فاطمة حتى بعثت إلیهم أبوبکر، عمر بن الخطاب لیُخرجهم من بیت فاطمة و قال له: إن أبوا فقاتِلهم، فاقبل بقبس من نار أن یُضرم علیهم الدار، فلقیته فاطمة فقال: یا ابن الخطاب أجئت لتحرق دارنا؟! قال: نعم، أو تدخلوا فیما دخلت فیه الأُمّة!»
[8]. Al-Amwâl, Catatan Kaki 4, Nasyr Kulliyat Azhariyah, al-Amwal, hal. 144, Beirut dan juga dinukil Ibnu Abdurrabih dalam Aqd al-Farid, 4/93:
« وددت انّی لم أکشف بیت فاطمة و ترکته و ان اغلق على الحرب»
[9]. Mizân al-I’tidâl, jil. 2, hal. 195.
[10]. Mu’jam Kabir Thabarani, 1/62, Hadis 34, Tahqiq Hamdi Abdulmajid Salafi:
« أمّا الثلاث اللائی وددت أنی لم أفعلهنّ، فوددت انّی لم أکن أکشف بیت فاطمة و ترکته. »
[11]. Aqd al-Farid, 4/93, Maktabatu al-Hilal:
« وودت انّی لم أکشف بیت فاطمة عن شی و إن کانوا اغلقوه على الحرب.»
[12]. Al-Wâfi bil Wafâyât, 6/17, No. 2444. Al-Milal wa al-Nihal, Syahrastani, 1/57, Dar al-Ma’rifah, Beirut. Dan pada terjemahan Nazzham silahkan lihat, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, 3/248-255.
« انّ عمر ضرب بطن فاطمة یوم البیعة حتى ألقت المحسن من بطنها.»
[13]. Syarh Nahj al-Balâghah, 2/46-47, Mesir:
« وددت انّی لم أکن کشفت عن بیت فاطمة و ترکته ولو أغلق على الحرب.»
[14]. Muruj al-Dzahab, 2/301, Dar Andalus, Beirut:
« فوددت انّی لم أکن فتشت بیت فاطمة و ذکر فی ذلک کلاماً کثیراً! »
[15]. Mizân al-I’tidâl, 3/459:
«انّ عمر رفس فاطمة حتى أسقطت بمحسن.»
[16]. Abdulfattah Abdulmaqshud, ‘Ali bin Abi Thalib, 4/276-277:
« و الّذی نفس عمر بیده، لیَخرجنَّ أو لأحرقنّها على من فیها...! قالت له طائفة خافت اللّه، و رعت الرسول فی عقبه: یا أبا حفص، إنّ فیها فاطمة...! فصاح لایبالى: و إن..! و اقترب و قرع الباب، ثمّ ضربه و اقتحمه... و بداله علىّ... و رنّ حینذاک صوت الزهراء عند مدخل الدار... فان هى الا طنین استغاثة...»
[17]. Maqatil ibn ‘Athiyyah, Kitâb al-Imâmah wa al-Khilâfah, hal. 160-161, diterbitkan dengan kata pengantar Dr. Hamid Daud, dosen Universitas ‘Ain al-Syams, Kairo, Cetakan Beirut, Muassasah al-Balagh:
« ان ابابکر بعد ما اخذ البیعة لنفسه من الناس بالارهاب و السیف و القوّة ارسل عمر، و قنفذاً و جماعة الى دار علىّ و فاطمه(علیه السلام) و جمع عمر الحطب على دار فاطمه و احرق باب الدار!..»
[18]. Jawaban ini diadaptasi dan diringkas dari makalah Ayatullah Makarim Syirazi. Demikan juga Anda dapat mengklik

Kamis, 10 Januari 2013

Batu-batuan dan Tumbuh-tumbuhan Bertasbih Memuji Allah Swt

 
Ilmu manusia terhadap makhluk-makhlulk yang menghuni alam semseta sangat terbatas dan minim. Kita tidak mengetahui cara komunikasi dan interaksi semut-semut, cacing-cacing dan kebanyakan makhluk lainnya antara satu dengan yang lain. Dan bahkan kita tidak mampu mendengarkan suara-suara mereka!
Karena panca indera pendengaran kita hanya mampu menerima suara-suara yang frekuensinya terbatas. Kita tidak memiliki kemampuan mendengarkan suara-suara dengan frekeunsi kurang atau lebih dari itu. Sementara merupakan suatu hal yang pasti mereka berhubungan dan berinteraksi satu sama lain.
Adapun bagaimana proses tasbih makhluk-makhluk memuji Allah Swt  merupakan hal-hal yang belum dapat disingkap oleh sains karena itu kita tidak dapat mengilustrasikan bagaimana proses tasbih tersebut. Namun telah dijelaskan pada banyak ayat dan riwayat bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah Swt.[1]
Tasbih artinya menyucikan dan mengkuduskan Allah Swt dari segala kekurangan, cela,  ketidakmampuan dan pendeknya segala sesuatu yang hanya dalam kapasitas makhluk-makhluk. Imam Shadiq As tatkala ditanya tentang subhanaLlah, beliau bersabda, “Artinya mengungkapkan kesucian Allah Swt dari segala macam cela dan keburukan.”[2]
Terdapat dua pandangan ahli tafsir sehubungan dengan bagaimana proses tasbih makhluk-makhluk (batu-batuan dan tumbuh-tumbuhan):
  1. Tasbih dengan bahasa tubuh atau non-verbal (hâl)
  2. Tasbih dengan bahasa verbal (qâl)
  1. Tasbih dengan bahasa tubuh atau non-verbal (hâl)
Sebagian ahli tafsir memandang bahwa tasbih makhluk-makhluk dinyatakan dengan bahasa tubuh dan non-verbal. Mereka memaknai tasbih tersebut sebagai petunjuk eksistensial seluruh makhluk atas Zat Suci Allah Swt dan sifat-sifat sempurnanya. Pada pandangan ini sebagain ahli tafsir berpandangan bahwa tasbih makhluk-mahkluk adalah tasbih takwini dan makhluk-makhluk tersebut mendeskripsikan Sang Pencipta dengan bahasa non-verbal dan lamat-lamat berkata, “Apabila engkau menyaksikan kekurangan pada diriku maka hal itu merupakan keniscayaan esensial diriku dan Mahasuci Allah Swt dari kekurangan ini.”
Abu Nasir Farabi, Thabarsi, Fakhrurazi dan Alusi memandang bahwa tasbih makhluk-makhluk dinyatakan dengan bahasa non-verbal (hâl). Dalam tafsir Nemune juga dikemukakan pandangan ini. Farabi, dalam tafsir tasbih dan salat makhluk-makhluk, berkata, “Langit dengan putarannya membawa dirinya salat ke haribaan Ilahi. Bumi dengan goyangannya menunaikan salat dan turunnya hujan adalah salat bagi hujan.”[3]
Sesuai dengan pandangan ini, konsepsi dan afirmasi tasbih makhluk-makhluk dan atom-atom di alam semesta sangat dapat dipahami karena setiap atom dari atom-atom di alam semesta yang melakukan aktifitas maka aktivitas tersebut adalah tasbih.
  1. Tasbih dengan bahasa verbal (qâl)
Yang dimaksud dengan bagian tasbih dan pujian ini adalah bahwa seluruh makhluk adalah berakal dan memiliki intelejensi. Di samping mereka bertasbih dan memuji Allah Swt dengan bahasa non-verbal, mereka juga memuji Allah Swt dengan bahasa verbal. Namun kita ketahui secara global bahwa tasbih semacam ini bersandar pada konsep bahwa seluruh hewan dan tumbuh-tumbuhan sesuai dengan kondisi dan posisi mereka memiliki pemahaman dan jiwa-jiwa rasional. Setiap makhluk bertasbih kepada Tuhannya dengan jiwa rasionalnnya dan lamat-lamat tasbih seluruh makhluk mengalun syahdu pada alam semesta. Meski mendengarkan tasbih mereka tidak mungkin bagi semua orang dan hanya orang-orang tertentu yang tidak terhijabi dunia yang dapat mendengarkan alunan tasbih seluruh makhluk di alam semesta.
Mengutip Rumi:
Sekiranya matamu terbuka dari mata gaib
Maka atom-atom semesta memiliki rahasia bersamamu
Omongan air, tanah dan bunga
Hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang mengurus hatinya
Di antara ulama kontemporer yang memiliki condong terhadap pandangan ini kita dapat menunjuk Allamah Thabathabai Ra dan Syahid Muthahhari Ra. Allamah Thabathabai Ra berkata, “Tasbih seluruh makhluk adalah tasbih hakiki dan verbal. Sesuatu yang verbal tidak mesti harus berbentuk untaian lafaz yang didengarkan.”[4]
Karena itu tasbih tumbuh-tumbuhan dan batu-batuan juga melakukan tasbih hakiki dan verbal. Adapun yang mengatakan tasbih para malaikat dan orang-orang beriman adalah tasbih verbal sementara tasbih makhluk-makhluk lainnya adalah tasbih non-verbal tidak dapat dibenarkan. Manusia harus menjadi ahli hati (yang mengurus hati dan penyucian jiwa), makna dan hakikat sehingga mampu memahami tasbih tersebut. Tatkala manusia memahami makhluk-makhluk tersebut kita saksikan bahwa bagaimana seluruh makhluk mengetahui, sadar, memuji dan bertasbih kepada Allah Swt.
Sehubungan dengan Nabi Daud, al-Quran menyatakan, “Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya (Daud) di waktu petang dan pagi. Dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul (sehingga bertasbih bersamanya). Masing-masing burung itu amat taat kepada-Nya.” (Qs. Shad [38]:17-19)
Pada ayat ini terdapat dua poin yang menyokong pendapat bahwa tasbih makhluk-makluk itu adalah tasbih dengan bahasa verbal: Pertama turut sertanya gunung-gunung dan burung-burung bersama Nabi Daud bertasbih memuji Allah Swt, “bertasbih bersamanya” apabila yang dimaksud tasbih adalah tasbih makhluk-makhluk adalah tasbih dengan bahasa non-verbal  maka kebersamannya dengan Daud tidak memiliki makna atau tidak terdapat poin yang menyebutkan hal itu (tasbih non-verbal).
Konteks ayat bersifat tunggal. Karena itu tidak ada maknanya kita memaknai tasbih terkait dengan gunung-gunung dan burung-burung sebagai bahasa non-verbal dan terkait dengan Nabi Daud kita maknai sebagai bahasa verbal, karena tasbih dengan bahasa non-verbal juga dapat disampaikan meski tanpa Nabi Daud As.
Poin lainnya bahwa ayat menyatakan pada pagi hari dan petang gunung-gunung dan burung-burung bertasbih bersama Daud. Boleh jadi kita berkata bahwa pagi hari dan petang merupakan kata kiasan dari malam dan siang dan sebagai hasilnya adalah tasbih yang berterusan. Namun dengan memperhatikan poin sebelumnya (bersama Nabi Daud As) harus dikatakan bahwa gunung-gunung dan burung-burung bersama Nabi Daud satu suara melakukan tasbih. Artinya kapansaja Nabi Daud mulai bertasbih, maka burung-burung dan gunung-gunung akan bersamanya satu nada bertasbih. Dengan demikian, yang dimaksud dengan ‘asya dan abkar adalah makna hakiki fajar dan senja, dan dalam hal ini tasbih yang menunjukkan adanya gunung-gunung dan burung-burung berarti adanya Tuhan dan tafsir tidak dengan bahasa non-verbal dan sebagaimana yang telah kami katakan, tasbih seperti ini senantiasa dan ada setiap masa. Tidak ada dalilnya kita mengkhususkan tasbih tersebut hanya pada pagi dan petang atau ketika adanya Nabi Daud As. Daud yang mendengarkan gunung-gunung dan burung-burung bertasbih dengannya, beliau memiliki telinga yang lain yang menembus batin dan malakut segala sesuatu dan mendengarkan suara batin mereka. “Apabila telinga batin kita terbuka maka kita juga akan mendengarkan.”[5]
Sehubungan dengan kisah bebatuan yang berbicara di tangan Rasulullah Saw,[6] Syahid Muthahhari berkata, “Di sini bukan mukjizat Rasulullah Saw sehingga bebatuan berbicara melainkan mukjizatnya terletak pada beliau membukakan telinga orang-orang untuk mendengarkan suara bebatuan tersebut. Bebatuan itu senantiasa bertasbih dan mukjizat Rasulullah Saw adalah memperdengarkan suara tasbih tersebut bukan membuat bebatuan bersuara.”[7]
Karena itu dapat dikatakan bahwa tasbih lisan dan ucapan makhluk-makhluk adalah hal yang mungkin saja terjadi yang dapat dipahami oleh hati-hati suci dan manusia-manusia yang telah menempa dan menggembleng dirinya. [iQuest]

[1]. “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al-Isra [17]:44)  
[2]. Al-Kâfi, jil. 1, hal. 118, Hadis 10.
[3]. Tasbih Makhluk-makluk.  
[4]. Terjemahan Persia al-Mizân, jil. 13, hal 152.
[5]. Silahkan lihat al-Mizân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 13, hal. 120-121.
[6]. Bihâr al-Anwâr, jil. 57, hal. 169.  
[7]. Murtadha Muthahhari, Âsyanâi bâ Qur’ân, jil. 4, hal. 174.

Rabu, 09 Januari 2013

hubungan yang terjalin antara nafs, ruh, jiwa, akal, pikiran dan fitrah

Terkadang yang dimaksud atas beberapa redaksi dan kalimat ini adalah satu dan seluruhnya menyinggung satu realitas yaitu entitas dan realitas manusia; sebagaimana para filosof berkata substansi dengan lafaz “aku” dan semisalnya menengarai tentang realitas ini dan memiliki ragam nama; misalnya nafs, nafs natiqah, ruh, akal, quwwah aqilah, quwwah mumayyizah, jiwa, nyawa, hati, piala jendela dunia, piala, kakaktua dan nama-nama lainnya.[1]
Penggunaan beberapa redaksi ini dari sudut pandang filosofis adalah benar dan karena nafs identik dengan kesatuan dan integral dengan seluruh fakultas dan tingkatan, ia memiliki kesatuan dan keidentikan; sesuai dengan tuturan Mulla Hadi Sabzewari[2] dan Mulla Shadra, “al-nafs fi wahdatiha kullu al-quwwa.” (Jiwa pada kesatuannya adalah seluruh fakultas).[3]
Terkadang juga dimaksudkan untuk ragam makna dan masing-masing dari redaksi dan kalimat ini menyoroti masalah tingkatan dan derajat-derajat jiwa manusia. Hal ini dapat dijelaskan bahwa para arif meyakini bahwa nafs memiliki tingkatan dan derajat yang masing-masing dari derajat dan tingkatan tersebut memiliki nama khusus yang acapkali disebut sebagai tujuh kota cinta. Dan terkadang para arif menyebutnya sebagai sublimitas (lathaif) dan sebagaimana yang diungkap oleh Syaikh Atthar yang menggubah syair:
Haft Syahr Isyq ra Atthar Gasyt 
Atthar telah menjelajahi tujuh kota cinta
Ma hanuz andar kham yek kuceim
(sementara) kita masih bercokol di sebuah lorong
Tujuh tingkatan tersebut adalah :1. Alam natural. 2. Nafs (jiwa). 3. Qalb (hati). 4. Ruh. 5. Rahasia. 6. Tersembunyi (khafa). 7. Paling tersembunyi (akhfa).
Dengan penjelasan ini, para arif menyebut jiwa rasional (nafs nathiqah) manusia lantaran merupakan sumber gerakan dan tempat kediaman maka ia disebut sebagai thaba’; dan karena merupakan sumber bagi pelbagai pencerapan partikular disebut sebagai nafs (jiwa); dan lantaran merupakan sumber bagi pelbagai pencerapan universal detil maka disebut sebagai hati (qalb); dan karena simple (basith) yang menciptakan pelbagai pencerapan universal yang detil maka ia disebut sebagai ruh; dan karena kefanaannya pada akal aktif disebut sebagai rahasia (sirr); dan karena fana pada maqam wahidiyat disebut sebagai khafa (tersembunyi); dan karena fana dalam tingkatan ahadiyat disebut sebaga akhfa (paling tersembunyi).
Para filosof juga berkata bahwa nafs itu terbagi menjadi tujuh tingkatan: 1. Akal hayulani (akal potensial). 2. Akal bilmalakah (tingkatan rasionisasi pelbagai konsep dan afirmasi swa-bukti). 3. Akal bilfi’l (akal aktual). 4. Akal mustafad (akal perolehan). 5. Mahw. 6. Thams. 7. Muhiq.
Hal ini dapat dijelaskan bahwa dalam pandangan para filosof, karena nafs memiliki kapabilitas memperoleh pelbagai kesempurnaan maka ia disebut sebagai akal potensial (al-aql al-hayulani); dan kapan saja nafs memperoleh silsilah pemahaman primer dan pengetahuan-pengetahuan pendahuluan yang dengannya pemahaman sekunder dan ilmu-ilmu perolehan dapat diraih. Kondisi nafs seperti ini disebut sebagai akal bilmalakah; dan kapan saja nafs memperoleh kemampuan untuk melakukan inferensi berbagai pemahaman sekunder dan berbagai pengetahuan perolehan dengan berpikir dan berasumsi maka nafs di sini disebut sebagai akal aktual (akal bilfi’il); dan lantaran kehadiran dan perolehan bebbagai pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh dalam nafs yang diraih melalui akal aktif maka ia disebut sebagai akal mustafad (akal perolehan). Nafs pada maqam tauhid perbuatan disebut mahw. Pada maqam tauhid sifat disebut thams. Dan pada maqam tauhid zati disebut muhiq.[4]
Dalam beberapa riwayat juga disebutkan jenis klasifikasi nafs seperti ini.[5] Sebagaimana redaksi ruh yang digunakan untuk ragam aplikasi dalam kitab-kitab Filsafat dan Irfan.[6] Di sini kita akan menyinggung masalah penggunaan dan aplikasi redaksi ruh sebagaimana berikut:
1.     Nafs Nathiqah (jiwa rasional).
2.     Jiwa hewani.
3.     Akal non-material dan atas dasar itu akal pertama disebut sebagai ruh al-qudus.
4.     Maqam yaum al-jam’ insân (tingkatan hari perhimpunan manusia) yang berada di atas maqam hati (yaum al-fashl insân).
5.     Tingkatan akal basith (akal simple) yang menjadi kriteria kreativitas pelbagai perincian pemahaman dan sebagai lawan tingkatan akal-akal rinci (‘uqul tafshili) (pemahaman-pemahaman yang terpisah [ma’qulat munfashilah] atau hati.[7]
6.     Cahaya yang keluar dari mata sesuai dengan teori matematikawan tentang abshar.
7.     Jism latif (jasmani lembut) atau ruh bukhari.[8]


Adapun terkait dengan redaksi pikiran (dzihn) harus dikatakan bahwa terkadang yang dimaksud dengan dzihn di sini adalah akal atau fakultas rasional. Dan terkadang yang dimaksud adalah fakultas imagisional dan terkadang juga yang dimaksud adalah fakultas memorial.[9] Sebagaimana pada redaksi fitrah juga harus diperhatikan bahwa terkadang yang dimaksud dengan fitrah adalah ruh dan hakikat manusia. Dan terkadang yang dimaksud adalah sekumpulan pengenalan dan kecenderungan yang terdapat pada diri seseorang.[10]
Sebagaimana terkadang juga yang dimaksud dengan nyawa adalah ruh bukhari dan yang dimaksud dengan jiwa di sini adalah nafs nathiqah (jiwa rasional) manusia.[11] [IQuest]




[1]. Hasan Hasan Zadeh Amuli, Ma’rifat-e Nafs, Daftar-e Awwal, hal. 84.  
[2]. Hakim Sabzewari, Manzhumah, jil. 5, hal. 181 dan 182.
النفس فی وحدتها کلّ القوى      و فعلها فی فعله قد انطوى
[3]. Mulla Shadra, Asfar al-Arba’ah, jil. 8, hal. 221.  
فصل فی بیان أن النفس کل القوى بمعنى أن المدرک بجمیع الإدراکات المنسوبة إلى القوى الإنسانیة هی النفس الناطقة و هی أیضا المحرکة لجمیع التحریکات الصادرة عن القوى المحرکة الحیوانیة و النباتیة و الطبیعیة و هذا مطلب شریف و علیه براهین کثیرة بعضها من جهة الإدراک و بعضها من جهة التحریک و التی من جهة الإدراک نذکر منها ثلاثة البرهان الأول من ناحیة المعلوم.
[4]. Hasan Hasan Zadeh Amuli, Sarh al-‘Uyûn, hal. 569. Name-ha wa Barname-ha, hal. 121 dan 122.
[5]. Bihâr al-Anwâr, jil. 90, hal. 154.
[الخصال‏] الذِّکْرُ مَقْسُومٌ عَلَى سَبْعَةِ أَعْضَاءٍ اللِّسَانِ وَ الرُّوحِ وَ النَّفْسِ وَ الْعَقْلِ وَ الْمَعْرِفَةِ وَ السِّرِّ وَ الْقَلْبِ وَ کُلُّ وَاحِدٍ مِنْهَا یَحْتَاجُ إِلَى الِاسْتِقَامَةِ فَاسْتِقَامَةُ اللِّسَانِ صِدْقُ الْإِقْرَارِ وَ اسْتِقَامَةُ الرُّوحِ صِدْقُ الِاسْتِغْفَارِ وَ اسْتِقَامَةُ الْقَلْبِ صِدْقُ الِاعْتِذَارِ وَ اسْتِقَامَةُ الْعَقْلِ صِدْقُ الِاعْتِبَارِ وَ اسْتِقَامَةُ الْمَعْرِفَةِ صِدْقُ الِافْتِخَارِ وَ اسْتِقَامَةُ السِّرِّ السُّرُورُ بِعَالَمِ الْأَسْرَارِ فَذِکْرُ اللِّسَانِ الْحَمْدُ وَ الثَّنَاءُ وَ ذِکْرُ النَّفْسِ الْجَهْدُ وَ الْعَنَاءُ وَ ذِکْرُ الرُّوحِ الْخَوْفُ وَ الرَّجَاءُ وَ ذِکْرُ الْقَلْبِ الصِّدْقُ وَ الصَّفَاءُ وَ ذِکْرُ الْعَقْلِ التَّعْظِیمُ وَ الْحَیَاءُ وَ ذِکْرُ الْمَعْرِفَةِ التَّسْلِیمُ وَ الرِّضَا وَ ذِکْرُ السِّرِّ عَلَى رُؤْیَةِ اللِّقَاءِ.

[6]. Sarh al-‘Uyûn, hal. 266.
[7]. Nampaknya penggunaan keempat dan kelima adalah satu.
[8]. Hasan Hasan Zadeh Amuli, Hizâr wa Yek Nukteh, hal. 81-83.  
[9]. Khayal (retentif faculty) adalah fakultas kedua pencerap batin (indra batin) yang menjaga bentuk-bentuk yang mencerap indra bersama (common sense ,al-hiss al-musytarak). Fakultas repositoris (berkedudukan sebagai gudang) adalah khazanah dan arsip indra bersama (common sense). Khayal (retentif faculty) di samping merupakan sebagai khazanah indra, ia juga adalah fakultas mutasharrifah. Terkadang fakultas khayal disebut sebagai mushawwarah dan mutakhayyilah. Memori adalah sebuah fakultas yang menjaga dan memelihara makna-makna partikular. Sejatinya memori adalah khazanah dan arsip fakultas estimatis (estimative faculty, wahimah). Fakultas ini juga acapkali disebut sebagai dzakirah (pengingat) dan mustarji’ah. Lantaran fakultas ini menjaga makna-makna maka ia disebut sebagai hafidzah (memori). Dan terkadang disebut pengingat cepat (dzâkirah). Dan terkadang mengingat dengan adanya jeda disebut sebagai mustarji’ah. Ibnu Sina, al-Nafs min al-Syifâ, hal. 235 dan 239. Isyârat, jil. 2, hal. 341. Mulla Shadra, Asfar al-Arba’ah, jil. 8, hal. 215. Mulla Hadi Sabzewari, Asrar al-Hikam, hal. 308 dan 309. Hasan Hasan Zadeh Amuli, Sarh al-‘Uyûn, hal. 392. 
[10]. Mishbah Yazdi, Amuzesy ‘Aqaid, hal. 44, Cetakan Ketujuh, Syerkat-e Cap wa Nasyr-e Bain al-Milal, tanpa tempat, 1381 S.  
[11]. Ibnu Sina menyebutkan dalam sebagian tulisan berbahasa Persia dengan redaksi ruh bukhari sebagai nyawa dan nafs nathiqah sebagai jiwa. Mulla Shadra, Asfar al-Arba’ah, jil. 8, hal. 251.

Sabtu, 29 Desember 2012

Tahun (Baru) Masehi: Mitos Musyrik Romawi yang Diadopsi Gereja, Mengapa Umat Islam Merayakannya?

Tahun Masehi-dewa janus-januari-jpeg.imageTahun masehi mendasarkan perhitungannya pada peredaran matahari. Sementara Tahun Hijriyah mendasarkan perhitungannya pada peredaran bulan.
Jadi, sangat logis jika tahun hijriyah menyebut Muharram, Safar, Rabiul Awwal, dan seterusnya dengan nama BULAN.
Tetapi, adalah janggal, jika nama-nama Januari, Februari, Maret, dan seterusnya disebut sebagai nama-nama BULAN, sebab perhitungannya berdasarkan peredaran MATAHARI.
Jadi, yang logis, Januari, Februari, Maret, dan seterusnya disebut sebagai MATAHARI Januari, MATAHARI Februari, MATAHARI MARET, dan seterusnya. Mungkin terasa tidak enak ya menyebut Januari dan seterusnya sebagai MATAHARI, bukan BULAN?
Ketidaklogisan lainnya, misalnya, saat pergantian tahun, mengawali 1 Januari, tepat pada tengah malam jam 00.
Mestinya, perhitungan Masehi dimulai di siang hari saat sang mentari beredar, sebagaimana tahun hijriyah mengawali perhitungannya ketika bulan mulai mengorbit. Sebut misalnya, saat umat Islam menetapkan awal dan akhir Ramadhan dengan melihat bulan atau mendasarkan perhitungannya pada bulan.
Begitulah. Nanti kita akan temukan lagi ketidaklogisan nama-nama MATAHARI ini, semisal September yang berarti TUJUH, tetapi ditempatkan pada posisi ke-9.
JANUARI. Mengapa tahun Masehi diawali Januari? Semula Januari bukan yang pertama, melainkan Maret.
Tapi ketika gereja mengadopsi kalendernya Romawi Kuno, Maret berubah menjadi Januari. Alasannya, untuk yang pertama harus baik. Sementara Maret identik dengan peperangan.
Januari Dalam mitologi musyrik Romawi Kuno, dikenal sebagai dewa berwajah dua. Satu menghadap ke depan dan satunya ke belakang.
Untuk menentukan mana yang depan atau belakang, ditandai dengan wajah yang menghadap depan selalu tersenyum dan optimis, sedangkan yang menghadap ke belakang selalu terlihat muram dan sedih.
Dewa itu bernama Janus, yang bisa pula berarti pintu, gerbang, gapura atau lorong masuk.
Itulah mengapa untuk yang pertama setiap tahun dinamakan dengan JANUARI. Januarius Mensis (Latin, Januari) bisa dikatakan berwajah dua. Wajah yang satu menghadap ke tahun sebelumnya dan lainnya ke tahun berjalan.
Dewa Janus dikatakan bermuka dua, namun, menurut kepercayaan Romawi kuno, bermuka dua dalam konteks waktu.Tahun Masehi-dewa janus-januari-jpeg.image
FEBRUARI. Merupakan periode kedua dalam tahun Masehi. Berasal dari nama dewa Februus, Dewa Penyucian.
MARET. Merupakan periode ketiga dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewa Mars, Dewa Perang.
Pada mulanya, Maret menempati posisi pertama dalam kalender Romawi, lalu pada tahun 45 SM Julius Caesar menambahkan Januari dan Februari di depannya sehingga Maret “dikudeta” oleh gereja menjadi yang ketiga.
Alasannya untuk memulai yang pertama, harus penuh optimisme menatap ke depan. Sementara Maret identik dengan peperangan, sebab Maret yang dari kata Dewa Mars adalah Dewa Perang. Jadi, gereja juga meyakini akan keyakinan musyrik Romawi kuno itu.
APRIL. Merupakan “Matahari” keempat dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Aprilis, atau dalam bahasa Latin disebut juga Aperire yang berarti ”membuka”.
Diduga kuat sebutan ini berkaitan dengan musim bunga dimana kelopak bunga mulai membuka. Juga diyakini sebagai nama lain dari Dewi Aphrodite atau Apru, Dewi Cinta orang Romawi.
MEI. Merupakan “Matahari” yang kelima dalam kalender Masehi. Berasal dari nama Dewi Kesuburan Bangsa Romawi, Dewi Maia.
JUNI. Merupakan “Matahari” yang keenam dari tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Juno.
JULI. Jadi urutan ketujuh dari tahun Masehi. Di periode “Matahari” ini Julius Caesar lahir, sebab itu dinamakan Juli.
Sebelumnya Juli disebut sebagai Quintilis, yang berarti kelima dalam bahasa Latin. Hal ini lantaran kalender Romawi pada awalnya menempatkan Maret pada urutan pertama.
Tahun masehi-caesar_augustus_bust-jpeg.image
Kaisar Agustus
Pergeseran dari Maret yang semula di urutan pertama menjadi ketiga, berdampak pada urutan berikutnya.
AGUSTUS. Merupakan urutan kedelapan dalam kalender Masehi. Seperti juga nama Juli yang berasal dari nama Julius Caesar, maka Agustus berasal dari nama kaisar Romawi, yaitu Agustus.
Pada awalnya, ketika Maret masih menjadi yang pertama, Agustus menjadi yang keenam dengan sebutan Sextilis.
SEPTEMBER. Merupakan “Matahari” kesembilan dari tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Septem, yang berarti tujuh. Tapi janggalnya, sampai sekarang September di urutan kesembilan, padahal artinya “tujuh”.
Sejarahnya, September bertahan di posisi ketujuh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
OKTOBER. Merupakan “Matahari” kesepuluh dari tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Octo, yang berarti delapan.
Lucu memang, meski artinya “delapan”, tetapi di kalender Masehi si Octo menempati urutan kesepuluh. Oktober bertahan di posisi kedelapan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
NOVEMBER. Merupakan “Matahari” kesebelas dari tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Novem, yang berarti sembilan.
Tapi, janggalnya lagi, meskipun artinya “Sembilan”, di kalender masehi si Novem digeser jadi yang kesebelas.
November bertahan di urutan kesembilan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
DESEMBER. Merupakan “Matahari” keduabelas atau yang terakhir dari periode tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Decem, yang berarti sepuluh.
Walaupun artinya “sepuluh”, di kalender masehi sang “Decem” digeser menjadi yang keduabelas atau terakhir.
Desember di urutan kesepuluh dalam kalender Romawi bertahan sampai dengan tahun 153 SM.
Pada Desember inilah diyakini lahirnya Dewa Matahari (25 Desember) yang kemudian diadopsi oleh Kristen menjadi perayaan gereja, yakni Natal Yesus Kristus.
Itulah keanehan dan kejanggalan nama-nama hitungan “Matahari” pada Tahun Masehi yang mengadopsi mitosnya bangsa Romawi Kuno. Dan, lebih aneh bin janggal lagi, umat Islam merayakannya, tanpa memahami akar dan historisnya.Tanpa pengetahuan tentangnya.
Sama halnya dengan natal 25 Desember yang mengadopsi kelahiran dewa matahari, berakar dari Romawi Kuno. Maka, sesungguhnya natal 25 Desember dengan 1 Januari, awal tahun baru masehi, itu adalah satu paket.
Akar, sumber dan historisnya sama. Kalangan gereja “memborong” dua “tema” sekaligus: tema ‘natal’ dan ‘tahun baru masehi 1 Januari’, sehingga jadi semarak.
Jadi, aneh dan janggal pula, jika ada sementara pihak yang mengatakan: mengucapkan selamat natal haram, tapi mengucapkan tahun baru 1 Januari tak apa! Yaa Robb, na’uudzubillaahi mindzaalik.
TAHUN HIJRIYAH
Berbeda dengan penetapan kalender Hijriyah yang dilakukan pada zaman Umar bin Khaththab, diambil dari peristiwa hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (ditemani Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu) dari Makkah ke Madinah.
Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan (nah, penyebutan bulan di sini adalah logis, karena tahun hijriyah mendasari perhitungannya pada bulan), dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman ALLAH SWT:
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) ad-Din yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa,” (At Taubah: 36).
1. Muharram
Artinya, yang diharamkan atau menjadi pantangan. Di bulan Muharram, dilarang untuk berperang.
2. Shafar
Artinya, kosong. Di bulan ini, lelaki Arab pergi untuk merantau atau berperang.
3. Rabi’ul Awal
Artinya masa kembalinya kaum lelaki yang merantau (shafar).
4. Rabi’ul Akhir
Artinya akhir masa menetapnya kaum lelaki.
5. Jumadil Awal
Artinya awal kekeringan. Maksudnya, mulai terjadi musim kering.
6. Jumadil Akhir
Artinya akhir kekeringan. Dengan demikian, musim kering berakhir.
7. Rajab
Artinya mulia. Zaman dahulu, bangsa Arab sangat memuliakan bulan ini.
8. Sya’ban
Artinya berkelompok. Biasanya bangsa Arab berkelompok mencari nafkah.
9. Ramadhan
Artinya sangat panas. Bulan yang memanggang (membakar) dosa, karena di bulan ini kaum Mukmin diharuskan berpuasa/shaum sebulan penuh.
Men Leading Camels in Desert
Tahun Hijriyah: Tonggak peradaban Islam
10. Syawwal
Artinya kebahagiaan, peningkatan (setelah ujian Ramadhan, mestinya kualitas amaliah dan hidup menjadi meningkat).
11. Zulqaidah
Artinya waktu istirahat bagi kaum lelaki Arab.
12. Zulhijjah
Artinya yang menunaikan haji.
Rio E. Turipno, S.Psi  (diambil dari Konsultasi Pelajar Muslim)
*Artikel ini telah mengalami pengeditan dan penambahan seperlunya