Senin, 27 Agustus 2012

Syi'ah sampang Dibunuh

kami kaum syi’ah imamiyah mengklaim sudah mencatat angka 2,5 juta jiwa ! WAHAi PERUSUH SAMPANG anda  tidak punya kekuatan sama sekali untuk memudarkan kebangkitan syi’ah Indonesia !! Kami kaum syi’ah siap mati syahid kapan saja tanpa perlu mengemis ngemis perlindungan Presiden RI
Warga Islam Syiah di Nanggernang, Sampang, Madura, Jawa Timur, kembali diserang sekelompok orang padaMinggu, 26 Agustus 2012
Anda tau ?? di zaman modern saja Syi’ah dibantai di Indonesia
Syi’ah Sampang dibantai !! miniatur islam zaman Umayyah Abbasiyah terulang
Islam yang asli pada zaman Umayyah Abbasiyah telah dirusak, Syi’ah yang memurnikan islam justru dituduh sesat
“Nabi Muhammad saw menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelahnya
Nabi Muhammad saw datang membawakan ajaran mulia, Islam.
Sepanjang dakwahnya ia selalu mengenalkan Ali bin Abi Thalib kepada umatnya, bahkan menyatakan bahwa ia adalah pemimipin setelahnya.
Rasulullah saw meninggal dunia. Namun semua orang sibuk di Saqifah membahas siapakah yang layak menjadi pengganti nabi.
Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dikucilkan.
Imam demi Imam silih berganti, sampai imam terakhir, Al Mahdi ghaib.
Kini kita tidak bisa merasakan kehadiran pimpinan di tengah-tengah kita. Ikhtilaf, perpecahan, perbedaan pendapat, permusuhan antar umat Islam… semuanya berakar di sejarah yang terlupakan.
Satu-satunya masalah yang paling besar yang memecahkan umat Islam menjadi Syi’ah dan non Syi’ah adalah kekhilafahan. Syi’ah meyakini Ali bin Abi Thalib adalah khalifah pertama, lalu Hasan dan Husain putranya, lalu Ali Zainal Abidin, dan seterusnya.

Ibunda Pemimpin Syiah Sampang Kritis

Sedikitinya satu orang tewas, empat orang dalam keadaan kritis dan lebih dari dua puluh lainnya mengalami luka ringan akibat aksi penyerangan yang diduga dilakukan penganut sunni terhadap penganut islam syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Minggu pagi tadi, 26 Agustus 2012
.
Korban tewas bernama Hamamah, 45 tahun. Dia tewas akibat kena sabetan senjata tajam milik kelompok penyerang. Sedang korban kritis masing-masing bernama Tohir, Mat Siri dan Abdul Wafi. “Ibunda Ustad Tajul juga kritis, padahal dia bukan penganut syiah,” kata Zain, anak salah satu korban kritis, Tohir.
Rata-rata korban kritis akibat terkena sabetan senjata tajam dan lemparan batu. Kini mereka tengah dirawat di RSUD Sampang dan mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian. “Untuk yang luka ringan saya tidak tahu mereka dirawat atau tidak,” ujar Zain kepada Tempo.
Zain yang merupakan pengajar di pesantren syiah yang dibakar menuturkan penyerangan terjadi mulai pukul 08.00 WIB. Saat itu, sebagian besar warga syiah sedang merayakan lebaran ketupat. Tiba-tiba, dari arah sebelah timur yang tertutup perbukitan muncul ratusan massa. Mereka menyebar melintasi pesawahan sambil mengacungkan celurit dan berteriak. “Sekarang bukan hanya rumahhya, tapi orangnya juga harus habis,” tutur Zain menirukan teriakan itu.
Melihat itu, Zain bersama beberapa warga syiah termasuk korban tewas bersembunyi di salah satu bagian rumah pimpinan syiah Sampang, Tajul Muluk, yang selamat dari amuk masa pada penyerangan sebelumnya pada Desember 2011 lalu. “Mereka tidak langsung duel, tapi melempari kami dulu dengan batu,” ucap Zain.
Akibat lemparan batu itu, sejumlah orang syiah cedera. Salah satunya Hamamah yang akhirnya tewas dibantai. “Kami sembunyi dalam sungai, kami selamat setelah polisi datang,” tutur Zain.
Meski selamat Zain mengaku kecewa dengan aparat kepolisian karena baru tiba dilokasi pukul 15.00 Minggu sore, atau delapan jam setelah penyerangan. “Semua rumah jamaah syiah dibakar pakai bensin, sekitar 50 rumah, termasuk rumah saya,” katanya.
Zain juga mengaku pesimistis bahwa para pelaku pembakaran akan dihukum berat. Sebab, pada kasus sebelumnya, terdakwa pembakaran divonis ringan dan langsung bebas setelah dipotong masa penahanan.
Warga Syiah di Nangkernang, Sampang, Madura, Jawa Timur, kembali diserang sekelompok massa intoleran, Ahad (26/8).
Dua orang bernama Hamama dan Tohir tewas dibacok senjata tajam, sedangkan empat orang mengalami luka serius, enam orang luka ringan. Sementara itu ibunda Ustad Tajul Muluk pingsan terkena lemparan batu.
Peristiwa dipicu saat sekelompok massa mengadang para orang tua siswa yang hendak mengantarkan anak-anak mereka melanjutkan sekolah ke pesantren di Pulau Jawa, di pagi hari itu. Mereka lalu mengancam akan membakar angkot yang ditumpangi.
Meski para korban sudah melapor kepada pihak kepolisian. Namun, pihak kepolisian mengabaikan laporan dan justru menyalahkan pihak korban karena memaksa diri mengantarkan anak-anak mereka melanjutkan sekolah ke luar pulau.
Peristiwa teror tersebut teror yang kesekian kalinya terhadap warga Syiah di Sampang. Sebelumnya, terjadi pembakaran terhadap pesantren milik Ustad Tajul Muluk itu.
Bukannya aparat menindak para pelaku, justru Ustad Tajul malah divonis Pengadilan Negeri Sampang 2 tahun penjara dengan mengenakan pasal penondaan agama.
Direktur Lembaga Bantuan Hukum Universalia Ahmad Taufik menilai, hal itu tindakan yang mengerikan. “Ketika sekelompok warga negara diteror sedemikian rupa, negara dan aparaturnya abai bahkan seolah ikut mengamini aksi teror tersebut,” ujarnya.
Bupati Sampang, Kepala Kepolisian Resor Sampang, Gubernur Jawa Timur, dan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur harus bertanggung jawab atas pengabaian ini. Pengabaian tersebut menurut Taufik adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan negara.


Korban Tewas Syiah Sampang Jadi Dua Orang
Korban tewas kelompok minoritas Syiah Sampang bertambah menjadi dua orang. “Korban tewas adalah kakak beradik,” kata Ip, salah satu warga dari kelompok Syiah yang tidak mau disebutkan nama lengkapnya, saat dihubungi Tempo pada 26 Agustus 2012.
Ia mengatakan korban tewas adalah Thohir, 40 tahun, dan Muhammad Khosim (45). Keduanya adalah tetangga pemuka agama Syiah Sampang, Ustad Tajul Muluk, yang kini ditahan di lembaga permasyarakatan setempat setelah divonis dua tahun penjara karena penodaan agama.
Lebih lanjut ia menerangkan Muhammad Khosim alias Bapak Hamamah meninggal dunia karena sabetan clurit diperutnya. Sedangkan saudaranya Thohir meninggal dunia karena sabetan pedang dan clurit dipunggungnya saat akan menyelamatkan saudaranya yang terjebak di dalam rumah dan dilempari batu oleh kelompok antisyiah.
“Thohir sempat dievakuasi di sekolah dasar Karanggayam, namun nyawanya tidak bisa diselamatkan,” ujar dia.
Kordinator Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Jawa Timur, Andy Irfan Junaidi, mengatakan telah meminta kepada polisi untuk melakukan pengamanan agar korban tidak berjatuhan. “Bapak Kapolda telah menyampaikan sudah mengirim pasukan untuk pengamanan,” ujar dia.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Hadiatmoko hingga berita ini diturunkan belum membalas pesan pendek atau berhasil dihubungi. Demikian juga saat Tempo menghubungi Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kombes Polisi Hilman Thayib.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar