Kamis, 30 Agustus 2012

Syi'ah Di Indonesia 2.5Juta Tapi Taqiyah

jalaluddin Rahmat dan Ustad Husain Ardilla Klaim Syiah Indonesia 2,5 Juta, Tapi Taqiyah ! Ketua Dewan Syuro Ikatan Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaluddin Rahmat mengklaim saat ini jumlah kaum Syiah di Indonesia telah mencapai 2,5 juta orang. Namun umumnya mereka mempraktekkan taqiyah. Taqiyah mempraktikkan kondisi di luar seseorang dengan apa yang ada di dalam batinnya tidak sama.
“Dari data penelitian yang sudah ada itu populasi Syiah berkisar 500.000 saja seluruh Indonesia, itu perkiraan terendah, perkiraan tertinggi Syiah itu sekitar 5 juta-an, kalau saya ambil perkiraan yang menengah sekitar 2,5 juta”, ungkapnya saat acara Miladnya yang ke 63 di sekretariat IJABI, Rabu (29/08/2012) Kantor  Pusat IJABI, Jalan Kemang, Jakarta Selatan.
Lucunya, saat di Tanya wartawan, dari mana jumlah itu, Jalal menjawab datanya itu hanya perkiraan dan itupun data dari kepolisian.
“Kalian cari sendiri lah,” ujarnya.
Menariknya Jalal juga mengungkapkan,  bahwa sebagian orang-orang Syiah di Indonesia tidak tampak sebagai orang Syiah karena mereka mempraktekkan taqiyah. Taqiyah itu supaya untuk menyembunyikan identitas demi memelihara persatuan dan banyak dari mereka (orang Syiah) yang menjadi ustadz di masjid-masjid,  ujarnya. Yang tau tentang Syiah itu hanya orang Syiah sendiri. Mereka bahkan juga ada di legislative.
“Di legislatif juga ada orang Syiah tapi saya tidak akan menyebutkan siapa-siapanya,” terang Pria asal Bandung ini.
Ia juga mengatakan, mayoritas Syiah di Indonesia adalah Syiah Itsna Asyariyyah. “Kalau di Bali ada Syiah Ismailiyah,” tambahnya.
Sebelum ini, dalam sebuah wawancara Dengan Habib Achmad Zein Alkaf dari di Yayasan Albayyinat Indonesia, sebuah lembaga yang intensif mengkaji Syiah di Indonesia, Syiah Itsna Asyariyah atau Imamiyah adalah Syiahdengan pusat ideologi politik di dikendalikan Iran.

Organisasi Syiah Minta Tokoh Agama Pertahankan Sikap Tasamuh

Perbedaan Rukun dinilai Jalan tak masalah/Foto: RMOL

Organisasi Syiah di Indonesia, Ikatan Ahlul Bait Indonesia (IJABI), mengatakan meminta tokoh agama bisa mempertahankan dan melestarikan sikap tasamuh (toleransi) dalam menghadapi perbedaan agama dan eyakinan. Pernyataan ini disampaikan Pimpinan Pusat IJABI, Dr Jalaluddin Rahmat dalam sebuah pernyataan pers di Kantor  Pusat IJABI, Jalan Kemang, Jakarta Selatan.
“Dahulukan akhlak di atas fikih dalam menghadapi perbedaan faham di dalam internal umat Islam tidak menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk kepentingan politik dan ekonomi demi memelihara NKRI,” ujar Kang Jalal, demikian ia kerap dipanggil kepada pers, Rabu (29/08/2012) malam.
Lebih jauh, pria yang menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro IJABI ini meminta pihak pers tidak memuat atau membentujopini yang tidak menyejukkan.
Beda Rukun Dinilai Tak Masalah
Dalam konferensi pers tersebuu, IJABI juga mengeluarkan kronologi konflik Sunni-Syiah di Sampang versi Syiah.
Menurutnya, Tajul Muluk di serang pertama kali tahun 2004 saat peringatan maulid. Dua tahun kemudian pesantren IJABI di Bondowoso diserang. Pelakunya berhasil diadili. Tahun 2006, ustadz Tajul Muluk bersama adiknya Raisul Hukama dilantik menjadi pimpinan IJABI daerah Sampang. Tahun 2007, komunitas Syiah diteror berulang kali. Termasuk di antara orang yang membela komunitas Syiah adalah Rois.
Versi IJABI, karena masalah konflik keluarga, Rois bergabung dengan para penyerang Syiah dan akhir 2011, ia menyatakan bertaubat dari Syiah dan ikut memimpin penyerangan terhadap madrasah dan masjid kakaknya, Tajul.
Saat ada yang bertanya masalah Rukun Iman dan Rukun Islam antara Sunni dan Syiah, Kang Jalal hanya mengatakan, seperti perbedaan perumusan Pancasila sebelum ditetapkan dan disepakati. Menurut Jalal, perbedaan rukun itu bukan sebuah masalah.
Dalam acara itu, Jalal juga mengungkap jumlah kaum Syiah di Indonesia yang sudah mencapai 2,5 juta lebih dan melakukan taqiyah untuk menyembunyikan identitasnya

Personel Brimob mengawal pengungsi warga Syiah, ketika berlangsungnya evakuasi dari tempat persembunyian mereka, di Desa Karanggayam dan Desa Bluuran, Sampang, Madura, Jawa Timur. FOTO:  EPA/FULLY HANDOKO
Personel Brimob mengawal pengungsi warga Syiah, ketika berlangsungnya evakuasi dari tempat persembunyian mereka, di Desa Karanggayam dan Desa Bluuran, Sampang, Madura, Jawa Timur.
.

Jamaah Ahlul Bait Indonesia Doakan Tragedi Sampang

Masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi dan jangan mudah terpecah-belah dengan isu-isu SARA.
Ratusan jamaah Ahlul Bait Indonesia, duduk bersama melafalkan doa untuk korban kekerasan terhadap komunitas Syiah Sampang dan terciptanya perdamaian di Indonesia, di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, hari ini Selasa (28/8).
Gelar doa bersama, dimulai pukul 19.30 WIB. Sekitar 300 jamaah Ahlul  Bait Indonesia, duduk lesehan di temani temaram cahaya lilin di  pelataran Tugu Proklamasi.
Ketua Dewan Syuro, Ahlul Bait Indonesia, Habib Umar Shahab, dengan khusuk melantunkan tahlil diikuti para jamaah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar